Bandung – Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) tahun 2026 tidak hanya menjadi agenda akademik, tetapi juga mengambil peran strategis dalam membantu Pemerintah Provinsi Jawa Barat menuntaskan persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS). Melalui keterlibatan sekitar 1.200 mahasiswa KKN Reguler, UMBandung akan melakukan verifikasi faktual data ATS secara langsung di lapangan berdasarkan data by name by address yang telah disiapkan pemerintah. Langkah ini merupakan bagian dari sinergi UMBandung dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memastikan setiap kebijakan pendidikan dibangun di atas data yang akurat.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMBandung, Dr. H. Ijang Faisal, M.Si., mengatakan bahwa pendidikan merupakan hak dasar setiap anak. Karena itu, persoalan ATS tidak cukup diselesaikan melalui angka statistik, tetapi harus dipastikan melalui kehadiran langsung di tengah masyarakat.
“Data yang akurat akan melahirkan kebijakan yang tepat. Sebaliknya, data yang tidak tervalidasi dapat menyebabkan bantuan dan intervensi pemerintah tidak tepat sasaran. Melalui KKN ini, mahasiswa hadir untuk memastikan kondisi riil di lapangan sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar mengembalikan anak-anak ke bangku pendidikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, mahasiswa tidak hanya melakukan pencocokan identitas dan alamat, tetapi juga menggali berbagai faktor penyebab seorang anak tidak bersekolah, mulai dari persoalan ekonomi, kondisi keluarga, akses pendidikan, hingga faktor sosial lainnya. Informasi tersebut diharapkan menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menyusun program penanganan yang lebih efektif dan berkelanjutan. Proses verifikasi lapangan memang menjadi langkah penting agar penanganan ATS benar-benar tepat sasaran.
Selain 1.200 mahasiswa KKN Reguler, UMBandung juga mengirimkan 6 mahasiswa KKN Internasional ke Malaysia dan Singapura yang didampingi dua dosen pembimbing lapangan, serta 60 mahasiswa KKN Muhammadiyah-‘Aisyiyah (KKN MAS) di Kabupaten Malang bersama empat dosen pembimbing lapangan. Ketiga klaster tersebut menjadi bagian dari komitmen universitas dalam mengembangkan pengabdian masyarakat yang berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Menurut Ijang Faisal, KKN tahun ini mengusung semangat bahwa kampus tidak hanya melahirkan lulusan, tetapi juga menghadirkan solusi. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pembangunan manusia di Jawa Barat.
“Mahasiswa tidak datang sebagai pihak yang paling tahu, melainkan sebagai mitra masyarakat. Mereka belajar dari kehidupan sekaligus menghadirkan manfaat melalui ilmu yang dimiliki. Ketika satu anak berhasil kembali memperoleh hak pendidikannya, sesungguhnya kita sedang menyelamatkan masa depan satu keluarga, bahkan masa depan bangsa,” katanya.
Kolaborasi UMBandung dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam verifikasi faktual data ATS menjadi contoh bahwa perguruan tinggi dapat berperan sebagai mitra strategis pembangunan. Pengabdian masyarakat tidak lagi berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi hadir sebagai kerja nyata yang memperkuat kualitas data, mempercepat pengambilan kebijakan, dan membuka jalan bagi semakin banyak anak untuk kembali memperoleh haknya atas pendidikan. Wallhu’alam







Komentar