KAB. BANDUNG BARAT (TUGUBANDUNG.ID) – Transformasi digital tidak hanya menjadi kebutuhan bagi perusahaan besar, tetapi juga menjadi peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas pasar sekaligus menjaga keberlanjutan produk berbasis budaya lokal. Berangkat dari semangat tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan (Unpas) mengembangkan program penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di Desa Cililin, Kabupaten Bandung Barat, beberapa waktu lalu.
Program yang dipimpin Dr. Abu Huraerah, M.Si. berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku UMKM melalui pelatihan pemasaran digital, penguatan manajemen usaha, pengembangan merek produk, hingga pendampingan pemanfaatan marketplace sebagai sarana memperluas akses pasar. Pendekatan tersebut dikembangkan untuk menjawab tantangan yang dihadapi UMKM lokal, yang selama ini masih bergantung pada pemasaran konvensional meskipun memiliki potensi produk unggulan berbasis budaya daerah.
Desa Cililin dikenal memiliki berbagai produk khas seperti Wajit Cililin, Gurilem, Angleng, serta kerajinan bambu yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat. Namun, berbagai potensi tersebut belum sepenuhnya mampu bersaing di pasar yang semakin terdigitalisasi akibat keterbatasan literasi digital, pengelolaan usaha, dan akses pemasaran.
Menurut Dr. Abu Huraerah, pengembangan ekonomi kreatif tidak cukup hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga harus memperkuat kemampuan pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya lokal.
“Transformasi digital bukan berarti meninggalkan identitas lokal. Justru teknologi harus menjadi jembatan agar kekayaan budaya daerah memiliki daya saing yang lebih luas dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.”
Melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR) dan Asset-Based Community Development (ABCD), tim PKM melibatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam proses pengembangan usaha. Berbagai kegiatan dilakukan mulai dari pemetaan potensi ekonomi desa, pelatihan pemasaran digital, pembuatan konten promosi, pengembangan identitas merek, hingga pendampingan penggunaan berbagai platform digital seperti marketplace dan media sosial.
Selain meningkatkan kemampuan teknis, program ini juga mendorong perubahan cara pandang pelaku UMKM terhadap pemasaran produk. Para peserta didorong untuk tidak lagi hanya mengandalkan penjualan langsung, tetapi mulai memanfaatkan kanal digital guna menjangkau konsumen yang lebih luas. Pendampingan dilakukan secara bertahap melalui praktik langsung sehingga peserta dapat mengoperasikan platform digital secara mandiri.
Dr. Abu Huraerah menjelaskan bahwa tantangan utama bukan semata-mata keterbatasan teknologi, melainkan bagaimana membangun kepercayaan diri masyarakat dalam memanfaatkan teknologi tersebut sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha.
“Banyak pelaku usaha sebenarnya memiliki produk yang berkualitas. Tantangannya adalah bagaimana produk itu dikenal, dipercaya, dan mudah dijangkau oleh pasar. Karena itu kami mendampingi mulai dari membangun merek, menyusun cerita produk, hingga memasarkan secara digital.”
Selama pelaksanaan program, berbagai produk lokal berhasil dipetakan sebagai komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Pelaku UMKM juga mulai menerapkan praktik pemasaran digital melalui media sosial dan marketplace, melengkapi produknya dengan foto, deskripsi, serta identitas merek yang lebih menarik sehingga mampu meningkatkan daya saing di pasar digital.
Sebagai bagian dari keberlanjutan program, tim PKM turut mendorong pembentukan jejaring kolaborasi antara pemerintah desa, pelaku UMKM, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem ekonomi kreatif desa sekaligus memastikan proses transformasi digital terus berjalan setelah program pendampingan selesai.
Dr. Abu Huraerah menilai bahwa pengembangan ekonomi desa membutuhkan pendekatan yang memadukan inovasi dengan pelestarian budaya.
“Produk lokal memiliki cerita dan identitas yang tidak dimiliki produk lain. Ketika identitas tersebut dipadukan dengan inovasi dan teknologi digital, masyarakat tidak hanya memperoleh peluang ekonomi yang lebih besar, tetapi juga turut menjaga warisan budaya agar tetap hidup.”
Ke depan, model pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal yang diterapkan di Desa Cililin diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam memperkuat daya saing UMKM, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjadikan budaya lokal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. ***







Komentar