SPANYOL yang dijuluki “La Roja” akhirnya membuktikan tim paling siap diantara 48 negara peserta lainnya untuk menjadi juara World Cup 2026 sepakbola untuk kedua (2010, 2016) menumbangkan juara bertahan Argentina yang tampil “anti klimak” dengan skor 1-0, di stadion New Jersey, New York-AS, pada Senin (20/7/2026) dinihari WIB.
Ini merupakan gelar juara dunia sepakbola kedua kalinya setelah sebelumnya Spanyol menjadi juara dunia pertama kali 16 tahun lalu pada World Cup 2010 di Afrika Selatan. Sementara Inggris juara dunia 1966 akhirnya melalui generasi barunya, meski gagal ke final bisa meraih posisi ketiga yang juga merupakan sejarah pertama kalinya bagi Inggris meraih peringkat ketiga mengalahkan juara dunia 2 kali Prancis yang harus puas di posisi keempat kalah 6-4. Namun hiburan bagi Prancis dengan gelar top skor World Cup 2026 yang diraih Kylian Mbappe dengan 10 gol.
Kemenangan “La Roja” diraih melalui penampilan kerja sama kompak penguasaan bola yang sulit bisa diimbangi Argentina yang justru tampil jauh dari harapan layaknya bukan tim juara dunia. Bahkan kapten Argentina, Lionel Messi (39) tak bisa berbuat banyak dan nyaris terisolasi sepanjang pertandingan tanpa kontribusi berarti karena penjagaan ketat tim “La Roja”, sehingga peran Messi yang begitu sentral ketika secara dramatis menang susah payah atas Cape Verde, Mesir dan Inggris di semi final tidak terlihat.
Tim Spanyol yang ditangani pelatih Luis de la Fuente praktis menguasai bola hingga 70% sedangkan Lionel Messi dkk hanya menguasai 30% dan nyaris tak bisa melakukan tendangan ke gawang karena sangat sulit memasuki area penalti “Ra Roja”.
Gol satu satunya yang dicetak Spanyol pada perpanjangan waktu 2×15 menit tepatnya pada menit ke-106 oleh pemain klub Barcelona, Ferran Terras.
Generasi baru “La Roja” dengan sederet pemain muda tampil amat kompak dan seimbang antara bertahan, menguasai lapangan tengah dan serangan serangan cepat begitu memasuki daerah penalti Argentina. Para pemain muda Spanyol seperti Lamine Yamal, Pau Cubarsi, Pedri, Gavi dan Dani Olmo sangat kompak dalam kerja sama dan cepat mengambil alih bola bila dikuasai Argentina.
Kekurangan yang ada adalah akurasi penyelesaian akhir yang masih kurang akurat sehingga banyak tendangan yang melenceng dan beberapa tembakan ke gawang Argentina yang akurat terlalu lemah atau mengarah ke penjaga gawang sehingga mudah dipatahkan.
Argentina Layu
Tim Argentina tampil layaknya juara dunia, selalu bisa mencari Solusi dalam tekanan lawan seperti diperlihatkan di babak penyisihan grup, 32 besar, 16 besar, delapan besar hingga semi final, namun memasuki final melawan Spanyol. Semua keperkasaan skuad Argentina seakan hilang, demikian juga inisator penggerak tim Lionel Messi dibuat “menganggur” tanpa kontribusi berarti. Jangankan menambah gol yang sudah dicetak 8 gol sebelum final, melepaskan tembakan ke gawang Spanyol pun tidak pernah karena peluangnya tidak ada sama sekali.
Dengan permainan seperti itu dan baru tersengat setelah kebobolan 1 gol di menit 106 tidak cukup waktu lagi untuk merubah situasi atau menciptakan kejutan lagi. Bahkan Argentina yang biasanya diuntungkan keputusan wasit yang kontroversi seperti ketika melawan Mesir, kali ini di final justru satu pemainya Enzo Fernandez kena kartu merah sehingga Argentina harus bermain dengan 10 pemain.
Messi pun mengakhiri World Cup terakhirnya dengan tragis, dan air mata kesedihan pun tak bisa dibendungnya, “Magic” Messi berakhir seiring tiupan peluit berakhirnya pertandingan final Spanyol vs Argentina.
Penghargaan Pemain
- Golden Ball Award: Rodri (Spanyol)
- Golden Boot: Kylian Mbappe (Prancis)
- Golden Glove (Kiper Terbaik): Unai Simon (Spanyol)
- Young Player: Pau Cubarsi (Spanyol)
- Top Assist: Michael Olise (Prancis). (Bambang Kunthady)***













Komentar