KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID), 26 September 2025 – School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) bersama Fachhochschule Nordwestschweiz (FHNW) Switzerland resmi menyelenggarakan Final Pitch and Awarding Night Swiss Innovation Challenge Asia 2025 di Kampus SBM ITB, Bandung.
Kompetisi inovasi tingkat internasional ini menjadi wadah penting bagi perusahaan, organisasi non-profit, startup, maupun individu untuk menyalurkan ide-ide inovatif mereka dan mendorong solusi nyata terhadap tantangan lokal maupun global.
Acara dibuka dengan sambutan dari Prof. Ir. Togar Mangihut Simatupang, M.Tech., Ph.D., Sekretaris Jenderal Kemendikti Saintek. Dalam sambutannya, Togar menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Swiss Innovation Challenge di Indonesia.
“Kompetisi ini telah memperkenalkan platform inovasi internasional kepada mahasiswa dan inovator dari berbagai universitas di Indonesia. Hal ini menjadi dorongan positif agar masyarakat semakin peduli terhadap permasalahan nyata di tingkat lokal dan bagaimana mengubah ide menjadi solusi konkret,” katanya.
Prof. Togar juga menekankan bahwa Swiss dikenal sebagai salah satu negara paling inovatif di dunia, sehingga kolaborasi ini diharapkan dapat mendorong para inovator Indonesia untuk naik ke level berikutnya dan membawa karyanya menuju panggung global.
“Swiss Innovation Challenge Asia merupakan ajang inovasi internasional yang berfokus pada pengembangan ide dalam bentuk proses, produk, model bisnis, maupun inovasi manajerial. Program ini dirancang dalam tiga tahap kompetisi,” tambahnya.
Mulai dari pengajuan deskripsi inovasi, pengembangan rencana bisnis, hingga rencana implementasi. Tujuan utama dari kompetisi ini adalah untuk mendorong komersialisasi inovasi, mendukung talenta wirausaha, serta membangun ekosistem inovasi berkelanjutan.
Dr. Leo Aldianto, M.B.A., M.SAE., selaku International Steering Committee Swiss Innovation Challenge Asia 2025, menjelaskan bahwa program ini menjadi sarana kolaborasi internasional antara FHNW Switzerland dengan universitas di Asia.
“Termasuk Malaysia, Jepang, dan Vietnam. Swiss Innovation Challenge hadir sebagai wadah kolaborasi internasional untuk membawa ide-ide inovatif ke tahap komersialisasi. Menurutnya, inovasi yang lahir dari Indonesia memiliki potensi besar untuk memberikan dampak tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga global,” jelasnya.
Proses penilaian pada babak semifinal hingga final melibatkan dewan juri dari berbagai latar belakang akademisi, praktisi, dan wirausaha. Di antara juri tersebut adalah Prawira Fajarindra Belgiawan, Stefan Philippi, Prof. Dr. Arie Hans Verkuil, Dr. Leo Aldianto, Nadya Saib, Dohar Bob Silumorang, serta Dr. Dpl Ing. Mulyadi Sinung Harjono dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama juri-juri lain yang berpengalaman dalam bidang inovasi dan kewirausahaan.
Dari hasil final pitch yang berlangsung di SBM ITB, tiga inovasi terpilih berhasil meraih gelar juara. Juara pertama diraih oleh tim HerLens dengan aplikasi inovatif yang memungkinkan dokter dan bidan melakukan skrining kanker serviks hanya dengan menggunakan smartphone. Aplikasi ini hadir sebagai solusi praktis, murah, dan akurat, khususnya di daerah dengan sumber daya terbatas. Chief Product Officer tim HerLens, Andini, menjelaskan bahwa kemenangan ini menjadi pintu bagi HerLens untuk memperluas inovasinya ke pasar global. Sebagai juara pertama, HerLens akan mewakili Indonesia untuk melakukan pitching di Swiss bersama pemenang dari Malaysia dan Vietnam.
Juara kedua diraih oleh tim Microalgae Based Carbon Capture Technology at SP Subang dengan inovasi penangkapan karbon berbasis mikroalga yang mampu menyerap emisi industri sekaligus menghasilkan biomassa bernilai tambah. Perwakilan tim menjelaskan bahwa solusi ini menjadi jawaban konkret atas krisis iklim sekaligus peluang untuk memperluas dampak inovasi Indonesia ke tingkat Asia dan Swiss.
Juara ketiga jatuh kepada tim Renewable Energy Pump for Agriculture dengan pompa air tenaga surya yang membantu petani kecil mengurangi ketergantungan pada bahan bakar diesel. Perwakilan tim menyampaikan bahwa fokus mereka adalah memberdayakan petani demi mendukung ketahanan pangan Indonesia sebelum melangkah ke pasar internasional.
Keberhasilan para pemenang Swiss Innovation Challenge Asia 2025 di SBM ITB ini menjadi bukti bahwa inovator Indonesia mampu menghadirkan solusi nyata bagi tantangan global sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat. Melalui kolaborasi dengan FHNW Switzerland dan dukungan dari berbagai pihak, kompetisi ini diharapkan dapat terus mendorong lahirnya ide-ide kreatif, menguatkan ekosistem inovasi, serta menginspirasi generasi muda untuk membawa inovasi Indonesia menuju panggung internasional. (Pun)***







Komentar