Potensi riset robotika cerdas saat ini sangat besar dan terus mengalami perkembangan pesat. Dalam perkembangannya, robotika tidak lagi terbatas pada robot konvensional yang beroperasi di lingkungan terstruktur seperti pabrik. Kemajuan teknologi dalam bidang pembelajaran mesin (machine learning), sistem sensorik terkini, komputasi canggih, serta material lunak (soft materials) telah membuka jalan bagi lahirnya sistem robot cerdas yang lebih adaptif, fleksibel, serta mampu berinteraksi dan mengambil keputusan di lingkungan
Bandung, 17 Juni 2025. Kepala Pusat KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) BRIN, Yanuandri Putrasari menyampaikan bahwa riset di bidang robotika cerdas, khususnya yang berfokus pada robot bio-inspiratif, sistem bio-hybrid, dan robotika lunak (soft robotics), memiliki potensi penerapan yang luas di berbagai sektor, antara lain bidang kesehatan, seperti pengembangan robot bedah presisi tinggi; pertahanan dan keamanan, seperti robot pengintai otonom dan drone yang mampu beradaptasi terhadap medan.
Selain itu berpotensi juga di bidang eksplorasi lingkungan ekstrem serta operasi pencarian dan penyelamatan (SAR). Misalnya, pada reruntuhan akibat bencana alam, di mana robot lunak dapat menjelajah ruang sempit dan berbahaya; serta di sektor manufaktur modern, khususnya sistem produksi yang fleksibel dan kolaboratif antara manusia dan robot.
“Peluang utama yang diharapkan antara lain pertukaran pengetahuan terkini terkait riset yang dilakukan di bidang robotika cerdas, khususnya pada pengembangan robot berbasis struktur lunak dan sistem bio-hybrid. Serta, mendorong kolaborasi riset lintas disiplin maupun lintas instansi,” ujar Yanuandri.
Ketua Kelompok Riset Robotika dan Kecerdasan Sistem PRMC BRIN, Roni Permana Saputra, mengatakan bahwa materi yang akan disajikan pada webinar yaitu terkait sistem robotika dengan struktur lunak dan sistem bio-hybrid. Diantaranya soft & continuum robotics, yaitu pengenalan robot berbahan lunak dan fleksibel tanpa sendi, serta penerapannya pada perangkat medis seperti endoskopi dan robot bedah; insect–computer hybrid navigation, yaitu integrasi sensor dan perangkat komputasi on-board pada sistem biologis (serangga) untuk navigasi otonom di lingkungan tak terstruktur.
“Selain itu mengenai flexible-tube sensor dan machine learning, yaitu pengembangan sensor fleksibel yang dipadukan dengan algoritma pembelajaran mesin untuk akurasi port-plugging menggunakan robot manipulator,” ujar Roni.
Perekayasa Ahli Pertama BRIN, Dimas Sangaji sebagai salah satu narasumber akan memaparkan materi mengenai “Mengenal Soft dan Continuum Robot dalam Desain Sistem Robotika Medis.”
“Soft robot adalah robot yang terbuat dari material lentur seperti silikon. Sedangkan continuum robot adalah robot yang bentuknya menyerupai tentakel tanpa sendi kaku. Keduanya dirancang untuk bergerak fleksibel di ruang sempit dan sensitif, seperti dalam tubuh manusia,” jelas Dimas.
Dia berharap output dari riset ini akan menghasilkan prototipe robot medis, publikasi dan paten, serta kolaborasi lintas disiplin ilmu dan juga industri alat kesehatan. (Pun)***




Komentar