KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) — Menguasai suatu bidang membutuhkan dedikasi dan konsistensi dalam jangka panjang. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sekaligus pendiri GGN Sports, Ratu Tisha Destria, dalam kuliah umum Studium Generale di Aula Barat ITB, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan ini dihadiri sekitar 1150 mahasiswa secara luring dan daring di Kampus Jatinangor dan Cirebon, serta dimoderatori oleh Dr. Muhamad Fahmi Hasan, S.Pd., M.Or., Dosen dari Kelompok Keahlian Ilmu Keolahragaan, Sekolah Farmasi ITB.
Dalam pemaparannya, alumnus Prodi Matematika ITB angkatan 2004 tersebut membagikan perjalanan kariernya di dunia olahraga yang bermula ketika ia mencari unit kegiatan mahasiswa bidang sepak bola saat pertama kali berkuliah di ITB.
Menurut Tisha, seseorang membutuhkan waktu panjang untuk benar-benar menguasai bidang yang ditekuninya. Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk menentukan visi dan mulai menekuninya sedini mungkin.
“Kalau ingin memulainya, mulailah sekarang. Hasilnya mungkin baru akan kita rasakan 20 tahun kemudian,” ujarnya.
Pendekatan Sains dan Matematika dalam Pembinaan Usia Dini
Dalam pengembangan talenta sepak bola, Tisha mencontohkan proses pembinaan di Papua Football Academy (PFA). Proses identifikasi bakat dilakukan terhadap sekitar 2.500 anak dari 22 titik di Papua hingga terpilih 20 pemain.
Ia menjelaskan bahwa proses seleksi tidak cukup dilakukan dengan pendekatan linear yang hanya menjumlahkan hasil tes fisik dan teknik.
“Pendekatan yang dilakukan tidak boleh linear karena sepak bola itu kompleks,” ujarnya.
Menurutnya, sepak bola bukan sekadar olahraga yang mengandalkan kecepatan atau kekuatan fisik, melainkan juga ketepatan dan kecepatan dalam mengambil keputusan.
“Ini bukan olahraga adu cepat, bukan olahraga adu kuat, bukan juga olahraga adu lompatan yang paling jauh. Ini adalah olahraga adu ketepatan dan kecepatan pengambilan keputusan,” katanya.
Dalam proses tersebut, Tisha memanfaatkan pendekatan matematika untuk memetakan berbagai variabel keterampilan pemain. Pengalaman itu, menurutnya, menunjukkan bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata.
“Walaupun ilmu tersebut terasa abstrak di awal, percayalah itu akan dipakai dalam aplikasi dunia nyata,” ujarnya.
Setelah terpilih, para pemain muda dibina dalam lingkungan latihan terkontrol dengan pendekatan cognitive training. Salah satu latihan dilakukan dengan meminta pemain mengoper bola sambil mengenali warna rompi rekan setim secara cepat. Latihan tersebut dirancang untuk mengasah kemampuan motorik sekaligus pengambilan keputusan pemain.
Ekosistem Kompetisi dan Kontribusi Sosial
Selain pembinaan usia muda, Tisha menyoroti pentingnya membangun ekosistem kompetisi. Salah satu upaya yang dilakukannya ialah melalui Uni League, kompetisi yang dikembangkan untuk menghidupkan kembali sepak bola di lingkungan perguruan tinggi.
Dalam penyelenggaraan 98 pertandingan yang melibatkan 427 mahasiswa, ia menerapkan prinsip optimasi dan matematika diskrit, termasuk dalam pengaturan penugasan wasit agar efisien dari sisi anggaran tanpa mengabaikan kualitas pertandingan.
Tisha juga menginisiasi National Conference Football and Science (NCFS) sebagai ruang untuk menghimpun kajian dan riset mengenai sepak bola dari perspektif sains, teknologi, dan manajemen.
Selain itu, ia mengembangkan program berbasis ekonomi sirkular di Desa Damar Wulan. Melalui yayasan yang dikelolanya, lahan desa dimanfaatkan untuk budidaya beras ketan hitam. Hasil kegiatan tersebut kemudian digunakan untuk mendukung keberlangsungan kompetisi sepak bola usia 13 tahun di wilayah setempat.
Nilai Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Etis Mahasiswa ITB
Dalam menjalankan organisasi, Tisha menekankan pentingnya inovasi, teknologi, kerja sama tim, dan tanggung jawab bersama. Menurutnya, setiap orang dalam sebuah tim tidak cukup hanya menyelesaikan tugas masing-masing, tetapi juga perlu memastikan tujuan bersama dapat tercapai.
Ia menganalogikannya dengan permainan sepak bola. Seorang pemain tidak berhenti berkontribusi setelah mengoper bola kepada rekannya. Setiap peran merupakan bagian dari rangkaian kerja yang saling mendukung untuk mencapai tujuan tim.
Perjalanan kariernya juga diwarnai sejumlah keputusan besar. Salah satunya ketika ia memilih meninggalkan karier di perusahaan multinasional Schlumberger dan melanjutkan pendidikan melalui program FIFA Master untuk memperdalam bidang sepak bola.
Baginya, pencapaian pribadi perlu diiringi kontribusi kepada masyarakat.
Peta Jalan Menuju Puncak Sepak Bola Nasional
Dalam sesi tanya jawab, peserta dari berbagai program studi mengajukan pertanyaan mengenai pembinaan dan masa depan sepak bola Indonesia.
Menjawab pertanyaan mengenai pendekatan kepelatihan Shin Tae-yong, Tisha menjelaskan bahwa salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kondisi fisik pemain dan pencegahan cedera. Karena itu, menurutnya, proses pembinaan tidak hanya berfokus pada taktik permainan.
Tisha juga menyinggung kebutuhan memperluas basis pemain usia dini untuk menghasilkan lebih banyak talenta berkualitas pada masa mendatang. Menurutnya, pembinaan sepak bola membutuhkan ekosistem yang luas, berjenjang, dan dilakukan secara konsisten.
Menutup kuliah umum, Tisha kembali menekankan pentingnya komitmen dan tanggung jawab terhadap bidang yang telah dipilih.
“Ketika kita menekuni sesuatu, kita bertanggung jawab untuk itu,” ujarnya.
Ia mengingatkan mahasiswa bahwa pilihan untuk mendalami suatu bidang perlu dijalani secara konsisten, termasuk ketika menghadapi tantangan dan risiko.
Ia kembali menggunakan analogi sepak bola untuk menggambarkan sikap tersebut.
“Sampai peluit terakhir, mau sehabis itu kalah 15-0 sekalipun, kalian harus tetap bertanggung jawab,” tuturnya. (Pun)***







Komentar