KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) — Keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan semangat Mutiara Putri Azzahra untuk belajar dan meraih pendidikan tinggi. Putri bungsu dari Saptono dan istri yang sehari-hari berjualan tahu keliling tersebut berhasil diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA ITB) melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Keberhasilan Mutiara merupakan buah dari ketekunannya selama bersekolah, doa dan perjuangan orang tua, serta dukungan guru dan orang-orang di sekitarnya. Tanpa mengikuti bimbingan belajar, ia memaksimalkan pembelajaran di sekolah, belajar secara mandiri hingga larut malam, dan mencari penjelasan tambahan melalui berbagai sumber di internet.
Sempat Berencana Langsung Bekerja
Mutiara merupakan alumnus SMA Plus Al-Ghifari Bandung. Ia mengaku awalnya tidak merencanakan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena memahami kondisi ekonomi keluarganya.
“Niat awal saya ingin bekerja karena melihat kondisi ekonomi keluarga sepertinya belum memungkinkan untuk kuliah,” ujar Mutiara.
Kesempatan mulai terbuka ketika Mutiara dinyatakan sebagai siswa yang memenuhi syarat untuk mengikuti SNBP. Gurunya mendorong Mutiara agar mencoba mendaftar ke perguruan tinggi dan tidak melewatkan kesempatan tersebut.
Mutiara kemudian berdiskusi dengan ayahnya mengenai bidang pendidikan yang sesuai dengan minatnya. Sejak sekolah, ia menyukai ilmu pengetahuan alam, terutama biologi dan kimia. Saptono pun merekomendasikan ITB karena yang sejalan dengan ketertarikan putrinya.
“Saya mencoba mendaftar ke ITB dan alhamdulillah diterima,” katanya.
Kabar kelulusan tersebut menjadi kebahagiaan besar bagi keluarga. Mutiara mengaku tidak menyangka dapat diterima di ITB karena ketika mendaftar, ia hanya berusaha memberikan yang terbaik sambil menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.
Belajar Mandiri
Saptono mengatakan bahwa sejak awal ia melihat potensi dan kemauan belajar yang besar dalam diri anaknya. Namun, keterbatasan penghasilan membuatnya belum mampu mengikutsertakan Mutiara dalam bimbingan belajar. Meski begitu, ia berupaya membelikan buku untuk belajar mandiri.
“Itikad dan kemauan Mutiara sangat kuat. Akhirnya, saya membelikannya buku panduan,” ujar Saptono.
Ia kerap melihat Mutiara belajar hingga malam. Ketika menemui materi yang belum dipahami, Mutiara berusaha mencari penjelasan melalui YouTube.
Aktif Berorganisasi dan Mengajar Mengaji
Di tengah kesibukannya belajar, Mutiara aktif dalam organisasi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di sekolah. Ia juga mengajar mengaji secara privat kepada anak-anak taman kanak-kanak setelah pulang sekolah.
Saptono mengatakan, pada Ramadan menjelang pengumuman seleksi, ia mengajak putrinya untuk terus berdoa dan memanfaatkan malam-malam terakhir Ramadan dengan sebaik-baiknya.
“Saya mengatakan kepada anak saya, ‘Manfaatkan malam Lailatulqadar dan mintalah petunjuk kepada Allah karena segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya’,” katanya.
Ketika pengumuman SNBP tiba, dan anaknya berhasil diterima di ITB. Saptono mengaku tidak mampu mengungkapkan kebahagiaannya.
“Saya hanya dapat mengucapkan syukur, lalu sujud syukur. Sesuatu yang seolah-olah tidak mungkin, ketika Allah menentukan, ternyata dapat terjadi,” ujarnya.
Kebahagiaan tersebut sempat disertai kekhawatiran mengenai biaya pendidikan. Namun, Saptono memilih untuk terus berusaha dan meyakini bahwa akan ada jalan bagi pendidikan putrinya.
Mutiara kemudian memperoleh dukungan melalui KIP Kuliah. Menurut Mutiara, dukungan tersebut sangat berarti karena membuatnya dapat lebih fokus belajar tanpa terus memikirkan biaya kuliah.
Selain bantuan pendidikan, Mutiara merasakan dukungan yang besar dari kedua orang tuanya. Meski berada dalam keterbatasan, Saptono dan Suci terus memberikan nasihat, semangat, doa, serta berusaha memenuhi kebutuhan pendidikannya.
Dukungan juga datang dari keluarga besar, guru, teman-teman, dan tetangga yang senantiasa menyemangatinya selama belajar dan mempersiapkan diri memasuki perguruan tinggi.
Ingin Membalas Perjuangan Orang Tua
Mutiara menyadari kesempatan berkuliah di ITB tidak terlepas dari pengorbanan kedua orang tuanya. Ia menyampaikan terima kasih kepada keduanya yang terus mendukungnya.
“Terima kasih kepada Ayah dan Ibu yang sudah mendukung saya. Meskipun kami berada dalam keterbatasan secara ekonomi, Ayah dan Ibu terus berjuang,” katanya.
Selama berkuliah di ITB, Mutiara bertekad belajar dengan sungguh-sungguh dan menyelesaikan pendidikannya tepat waktu.
“Insyaallah, saya ingin lulus tepat waktu dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Kelak, Ayah dan Ibu tidak perlu lagi memikirkan biaya. Saya ingin membantu dan menanggung kebutuhan keluarga,” tuturnya. (Pun)***







Komentar