KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Grand Hotel Preanger Bandung memasuki babak baru dengan bergabung dalam jaringan Tribute Portfolio di bawah Marriott Bonvoy. Hotel bersejarah yang berdiri sejak 1897 ini menjalani pembaruan desain dan layanan tanpa meninggalkan karakter arsitektur Art Deco serta nilai sejarah yang melekat pada perjalanan Kota Bandung.
Multi-Property General Manager Grand Hotel Preanger Bandung, a Tribute Portfolio Hotel, Lily Wijaya mengatakan, pembaruan dilakukan dengan mempertahankan identitas asli hotel sekaligus menghadirkan kenyamanan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan masa kini.
“Untuk mempertahankan karya dari zaman dahulu, seninya tetap, DNA-nya tetap, budayanya tetap,” ujar Lily saat menjelaskan konsep pembaruan Grand Hotel Preanger, Rabu (14/10/2026).
Sejumlah elemen bangunan lama, termasuk pintu kamar dan kamar mandi, tetap dipertahankan. Pembaruan dilakukan melalui pengecatan dan penambahan aksen tanpa menghilangkan karakter aslinya. Perpaduan warna biru dan emas serta penggunaan kaca bergaya vintage turut memperkuat nuansa klasik hotel.
Menurut Lily, bergabungnya Grand Hotel Preanger dengan Tribute Portfolio juga membawa perubahan dalam pengelolaan melalui jaringan perhotelan internasional. Meski demikian, sejarah tetap menjadi bagian utama dari identitas hotel yang berada di Jalan Asia Afrika tersebut.
“Grand Preanger ini sejarahnya sangat melekat sekali dan kita tidak mau meninggalkan sejarah itu,” katanya.
Menghidupkan Kembali Cerita Sejarah Bandung
Grand Hotel Preanger memiliki perjalanan panjang yang berkaitan erat dengan perkembangan Kota Bandung. Hotel ini mulai berdiri pada 1897 dan didesain ulang pada 1929 oleh arsitek Belanda C.P. Wolff Schoemaker, dengan kontribusi desain dari Soekarno yang kelak menjadi Presiden pertama Republik Indonesia.
Bangunan tersebut dikenal dengan gaya Tropical Art Deco yang menjadi bagian dari warisan arsitektur Bandung. Melalui konsep Heritage, Reimagined, hotel berupaya menghadirkan perpaduan antara nilai sejarah, kenyamanan modern, dan pengalaman budaya lokal.
Upaya tersebut terlihat dari detail interior yang menyimpan cerita masa lalu. Salah satunya adalah ornamen kotak pos yang merujuk pada Postweg atau Jalan Pos. Elemen karung goni juga dihadirkan untuk menggambarkan aktivitas perdagangan di kawasan tersebut pada masa lampau.
Hotel turut menampilkan nama-nama tamu yang menginap pada masa Konferensi Asia Afrika 1955. Dokumentasi itu menjadi pengingat atas peran Bandung dalam sejarah diplomasi internasional.
“Sejarah tetap dipertahankan. Ke depannya, kita mengangkat tema-tema yang lebih modern, tetapi sejarah tidak ditinggalkan,” tutur Lily.
Ia menilai, warisan sejarah dapat menjadi sarana pembelajaran bagi berbagai generasi, termasuk anak muda yang ingin mengenal lebih dekat perjalanan dan budaya sebuah kota. Karena itu, Grand Hotel Preanger ingin menghadirkan pengalaman yang tidak sekadar menawarkan tempat menginap, tetapi juga membantu tamu memahami sejarah Bandung.
Perbarui Fasilitas, Pertahankan Karakter Klasik
Sebagai bagian dari pembaruan, Grand Hotel Preanger memiliki 188 kamar dan suite dengan luas mulai dari 32 meter persegi. Desain kamar memadukan nuansa Art Deco dengan fasilitas modern untuk menunjang kenyamanan tamu.
Proses renovasi dilakukan secara bertahap, dimulai dari area lobi, restoran, dan kamar. Tahap berikutnya mencakup pengembangan The Saloon Lounge, ruang pertemuan, dan ballroom.
The Saloon Lounge dirancang sebagai ruang berkumpul yang lebih santai bagi tamu maupun masyarakat. Area ini akan menghadirkan sajian kopi lokal, afternoon tea, serta pertunjukan musik Sunda dan jazz.
Untuk pilihan kuliner, hotel menghadirkan Huis Van Preanger yang menyajikan hidangan internasional, masakan Indonesia, dan cita rasa khas Jawa Barat. Ada pula Dutch Corner dengan hidangan berciri Belanda sebagai penghormatan terhadap hubungan sejarah kuliner kedua negara.
Di sektor pertemuan dan acara, Grand Hotel Preanger menyediakan area seluas 1.993 meter persegi, termasuk ballroom seluas 678 meter persegi dengan kapasitas hingga 800 tamu serta 11 ruang pertemuan. Hotel juga merencanakan pembukaan fasilitas spa dan pusat kebugaran baru pada 2027.
Bergabungnya Grand Hotel Preanger dengan Tribute Portfolio menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali karakter hotel kepada wisatawan sekaligus memperkuat posisinya sebagai bagian dari identitas Kota Bandung. Hotel ini tercatat sebagai hotel Tribute Portfolio pertama di Jawa Barat.
Lokasinya di kawasan Jalan Asia Afrika juga memudahkan wisatawan menjangkau sejumlah destinasi bersejarah, seperti Jalan Braga, Gedung Merdeka, Museum Konferensi Asia Afrika, dan Alun-Alun Bandung.
“Kita ingin supaya hotel ini bisa menjadi ikon untuk Kota Bandung juga,” kata Lily.
Ia berharap, pembaruan hotel dapat mendorong masyarakat dan wisatawan untuk semakin mengenal sejarah serta budaya Bandung. Menurutnya, pelestarian warisan tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk bangunan, tetapi juga perlu menghidupkan cerita agar dapat dipahami oleh generasi berikutnya.
Lily pun mengajak warga Bandung yang belum pernah berkunjung maupun yang pernah datang pada masa lalu untuk melihat langsung perubahan yang tengah dilakukan.
“Buat warga Bandung yang belum pernah ke sini atau sudah pernah ke sini di waktu yang lampau, datanglah ke sini untuk melihat perbedaan atau perubahan kita ke depan, untuk menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.***













Komentar