KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – BIMA, Pabrik Legendaris Bandung yang Bertahan 76 Tahun, Jaga Cagar Budaya hingga Tembus Pasar Dunia.
Di tengah ketatnya persaingan industri manufaktur, PT Perusahaan Logam BIMA membuktikan diri sebagai salah satu industri legendaris yang mampu bertahan di Kota Bandung.
Berdiri sejak 1950, produsen peralatan dapur seperti panci, kuali, dan perlengkapan memasak lainnya itu telah memasuki usia 76 tahun, sekaligus mempertahankan bangunan bersejarah yang kini berstatus cagar budaya serta menembus pasar internasional.
Akuntan PT Perusahaan Logam BIMA, Ratif Sinarto, mengatakan perjalanan panjang perusahaan tidak terlepas dari kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Pada awal berdiri, BIMA hanya memproduksi peralatan untuk memenuhi kebutuhan instansi pemerintah. Seiring waktu, perusahaan mulai memperluas pasar ke masyarakat umum hingga berhasil menembus pasar ekspor.
“Sudah 76 tahun kami bertahan. Itu bukan perjalanan yang mudah bagi sebuah pabrik manufaktur. Kami terus menghadapi berbagai tantangan, perubahan zaman hingga persaingan industri yang semakin ketat,” ujar Ratif di Bandung, Rabu, 15 Juli 2026.
Menurutnya, perubahan strategi pemasaran menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan perusahaan. Berbekal inovasi yang terus dilakukan, produk-produk BIMA kini tidak hanya diminati masyarakat Indonesia, tetapi juga telah dipasarkan ke berbagai negara.
Ratif mengaku bangga ketika mengetahui produk BIMA digunakan oleh masyarakat di luar negeri. Baginya, hal tersebut menjadi bukti bahwa kualitas produk manufaktur Indonesia mampu bersaing di pasar global.
“Kami bersyukur karena produk BIMA ternyata mampu bersaing di pasar internasional. Bahkan beberapa kali ada orang dari luar negeri membawa peralatan dapur dan ternyata itu adalah produk kami. Ini membuktikan teknologi dan kualitas industri Indonesia mampu bersaing di tingkat dunia,” katanya.
Selain dikenal sebagai produsen peralatan dapur, kawasan pabrik BIMA juga menyimpan nilai sejarah yang tinggi. Bangunan utama di bagian depan pabrik telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Bandung.
Bangunan bergaya arsitektur klasik dengan luas sekitar 600 hingga 700 meter persegi itu tetap dipertahankan keasliannya di tengah kawasan pabrik yang memiliki luas sekitar 12.000 hingga 13.000 meter persegi.
Selama puluhan tahun, perusahaan hanya melakukan perawatan rutin dan pengecatan tanpa mengubah struktur utama bangunan. Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen menjaga warisan sejarah Kota Bandung.
“Kami tidak mengubah struktur bangunan. Tampilan depan tetap dipertahankan seperti aslinya. Bahkan pemilihan warna juga disesuaikan agar tetap selaras dengan karakter bangunan cagar budaya,” tutur Ratif.
Penetapan bangunan BIMA sebagai cagar budaya, lanjutnya, menjadi kebanggaan tersendiri bagi perusahaan sekaligus bentuk apresiasi pemerintah terhadap pelestarian bangunan bersejarah di Kota Bandung.
Di sisi lain, industri manufaktur masih dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari persaingan produk sejenis, perubahan pola konsumsi masyarakat, regulasi, hingga meningkatnya biaya produksi. Meski demikian, BIMA tetap optimistis mempertahankan eksistensinya sebagai industri lokal yang kini telah memasuki generasi kedua dan tengah menyiapkan regenerasi kepemimpinan.
“Selama masih ada dapur di setiap rumah, kebutuhan akan peralatan memasak tidak akan pernah hilang. Itu yang membuat kami tetap optimistis untuk terus berproduksi dan menghadirkan produk berkualitas,” ujarnya.
Ratif berharap pemerintah terus memberikan dukungan terhadap keberlangsungan industri manufaktur di Kota Bandung, khususnya perusahaan yang tidak hanya berkontribusi pada perekonomian, tetapi juga berperan menjaga warisan sejarah melalui pelestarian bangunan cagar budaya.
“Kami bersyukur pemerintah memberikan apresiasi dengan menetapkan bangunan ini sebagai cagar budaya. Itu menjadi kebanggaan bagi perusahaan sekaligus kebanggaan bagi Kota Bandung. Ke depan, kami berharap industri manufaktur tetap mendapat dukungan agar mampu bertahan menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya.***












Komentar