DI tengah dinamika pelayanan publik yang semakin kompleks, hadir sosok aparatur yang tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi juga turun langsung menyentuh kehidupan masyarakat. Sosok tersebut adalah Giusty Bayuwardhany, S.IP, yang akrab disapa Gigi, Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial (Kasi Kesos) Kelurahan Mengger, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung.
Bagi Gigi, pelayanan publik bukan sekadar menjalankan tugas administratif. Pelayanan adalah tentang memastikan setiap warga negara mendapatkan kesempatan yang sama untuk hidup bermartabat.
“Setiap warga memiliki hak yang sama untuk memperoleh pelayanan dan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat. Penyandang disabilitas bukan objek bantuan, tetapi subjek pembangunan yang harus kita libatkan dan berdayakan,” ungkap Gigi.
Semangat itulah yang melahirkan HANAN KALANI (Harmonisasi Pelayanan Kelurahan Peduli Penyandang Disabilitas), sebuah aksi perubahan yang diinisiasi Gigi sebagai peserta Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) Angkatan I LAN RI Jatinangor Tahun 2026.
Program ini lahir dari kegelisahan yang ia temukan saat berinteraksi langsung dengan masyarakat. Menurutnya, masih banyak penyandang disabilitas yang belum terdata secara optimal dan belum memperoleh akses pelayanan yang ramah serta inklusif.

“Saya melihat masih ada saudara-saudara kita penyandang disabilitas yang belum terjangkau secara maksimal. Dari situlah muncul keyakinan bahwa perubahan harus dimulai dari tingkat kelurahan, dari lingkungan yang paling dekat dengan masyarakat,” tuturnya.
Melalui HANAN KALANI, Kelurahan Mengger melakukan berbagai langkah strategis, mulai dari pengumpulan data disabilitas yang akurat dan mutakhir, penyusunan basis data penyandang disabilitas, pembentukan grup komunikasi komunitas, hingga peningkatan sarana dan prasarana yang lebih aksesibel.
Selain itu, dilakukan pula pelatihan bahasa isyarat, sosialisasi peran PKK dalam membangun lingkungan inklusif, edukasi Down Syndrome bagi kader Posyandu, serta Gerakan Kelurahan Inklusif, Sehat, dan Tertib Administrasi.
“Perubahan tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran dan menghapus stigma. Ketika masyarakat memahami disabilitas dengan benar, maka lingkungan yang inklusif akan tumbuh dengan sendirinya,” kata Gigi.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari pendekatan kolaborasi pentahelix yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan media.
Baginya, inklusivitas merupakan tanggung jawab bersama.
“Tidak ada satu pihak pun yang bisa bekerja sendiri. Karena itu kami membangun kolaborasi dengan berbagai stakeholder agar gerakan ini menjadi milik bersama dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dukungan hadir dari berbagai pihak, mulai dari perangkat daerah Pemerintah Kota Bandung, STIA LAN Bandung, INABA, komunitas BILiC Kota Bandung, POTADS Jawa Barat, IWABI, hingga media massa.
Kiprah dan inovasi yang dilakukan Kelurahan Mengger juga mendapat perhatian serta apresiasi dari Aryatri Benarto atau Aya, istri Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang mengemban berbagai peran sebagai Bunda Kota Bandung.
Apresiasi tersebut menjadi penyemangat bagi seluruh pihak yang terlibat dalam program.
Meski demikian, bagi Gigi keberhasilan sesungguhnya bukan terletak pada penghargaan yang diterima, melainkan pada perubahan yang dirasakan masyarakat.

“Bagi saya, keberhasilan bukan ketika program ini selesai dilaksanakan. Keberhasilan adalah ketika penyandang disabilitas merasa diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang di lingkungannya,” katanya.
Di luar HANAN KALANI, Gigi juga aktif mendampingi berbagai program pemberdayaan masyarakat, mulai dari ketahanan pangan, pendidikan anak usia dini, kesehatan masyarakat, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.
Kedekatannya dengan warga menjadikan dirinya dikenal sebagai aparatur yang hadir, mendengar, dan bergerak bersama masyarakat.
Melalui HANAN KALANI, ia berharap Kelurahan Mengger dapat menjadi percontohan kelurahan ramah disabilitas di Kota Bandung.
“Harapan saya sederhana. Semoga Kelurahan Mengger menjadi tempat yang nyaman bagi semua warga tanpa terkecuali. Jika model ini berhasil, mudah-mudahan dapat direplikasi oleh kelurahan lain sehingga mendukung terwujudnya Kota Bandung yang semakin inklusif,” pungkasnya.
Sebuah langkah yang berangkat dari kepedulian, tumbuh melalui kolaborasi, dan bergerak dengan semangat kemanusiaan. Dari Kelurahan Mengger, Giusty Bayuwardhany menunjukkan bahwa pelayanan publik terbaik adalah pelayanan yang mampu merangkul semua, tanpa meninggalkan siapa pun di belakang. (EK)***











Komentar