KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID), 16 Oktober 2026 — PT Bio Farma (Persero) meraih penghargaan Primaniyarta 2026 kategori Eksportir Pemanfaat Free Trade Agreement (FTA) dalam kegiatan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (14/10).
Penghargaan dari Kementerian Perdagangan tersebut diterima langsung oleh Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi. Capaian ini merupakan penghargaan Primaniyarta ke-12 yang diraih Bio Farma sejak 2010, sekaligus menjadi apresiasi atas kontribusi perusahaan dalam mendukung ekspor nasional.
Pada penyelenggaraan TEI ke-40 tahun 2025, Bio Farma meraih Primaniyarta kategori Lifetime Achievement Award. Bio Farma juga menjadi satu-satunya badan usaha milik negara (BUMN) yang menerima penghargaan Primaniyarta pada tahun tersebut.
Kontribusi Bio Farma terhadap ekspor nasional tercermin dari total ekspor kumulatif lebih dari Rp10 triliun pada periode 2021–2025. Produk vaksin Bio Farma juga telah digunakan di lebih dari 150 negara di Asia, Afrika, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika melalui jalur pengadaan institusional serta kemitraan bilateral. Jaringan tersebut mencerminkan kepercayaan organisasi internasional, pemerintah, dan pemangku kepentingan kesehatan di berbagai negara terhadap produk Bio Farma. Capaian tersebut menunjukkan kemampuan industri kesehatan nasional untuk bersaing di pasar internasional sekaligus berkontribusi terhadap ekspor Indonesia.
Selama beberapa dekade, Bio Farma berkembang menjadi salah satu produsen vaksin terkemuka di dunia yang berperan dalam memperkuat kesehatan global melalui penyediaan vaksin dan produk biologi berkualitas. Sejak memasuki pasar internasional pada 1997, Bio Farma telah mengekspor lebih dari 90 miliar dosis vaksin, mendukung program imunisasi yang melindungi jutaan orang dari penyakit yang dapat dicegah melalui vaksinasi.
Dengan kapasitas produksi 3,1 miliar dosis per tahun dan portofolio 20 produk yang telah memperoleh prakualifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Bio Farma terus mendukung kebutuhan vaksin global dengan menjaga standar mutu, keamanan, dan khasiat yang diakui secara internasional. Portofolio ekspornya mencakup vaksin bakterial dan viral, termasuk vaksin polio dan campak, serta bahan aktif vaksin (vaccine drug substances) untuk mendukung pencegahan penyakit di berbagai negara.
Kategori Eksportir Pemanfaat FTA diberikan kepada eksportir yang secara konsisten memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas untuk meningkatkan ekspor dan memperluas akses ke pasar internasional. Bagi Bio Farma, pemanfaatan FTA menjadi bagian dari strategi pengembangan pasar dan penguatan kemitraan global.
Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi, menyampaikan bahwa penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi perusahaan untuk terus meningkatkan daya saing produk kesehatan Indonesia.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi Bio Farma untuk terus memperkuat daya saing produk di pasar internasional. Melalui optimalisasi pemanfaatan Free Trade Agreement (FTA), kami berupaya membuka peluang pasar yang lebih luas, memperkuat kemitraan strategis, serta meningkatkan kontribusi ekspor produk kesehatan Indonesia,” ujar Fitri.
Fitri menambahkan bahwa pengembangan pasar internasional akan terus didorong melalui inovasi, peningkatan kualitas produk, serta penguatan kolaborasi lintas negara untuk mendukung pertumbuhan ekspor yang berkelanjutan.
“Kami berharap produk kesehatan Indonesia tidak hanya mampu bersaing di pasar global, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan kesehatan dan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok kesehatan dunia,” tambahnya.
Sejalan dengan pengembangan pasar internasional, Bio Farma terus memperkuat kapabilitas dan penguasaan teknologi untuk mendukung kebutuhan kesehatan nasional. Salah satu diantaranya adalah Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat produksi Bio Farma yang pengembangannya mencakup kerja sama riset, transfer teknologi, uji klinis, serta evaluasi regulator hingga memperoleh persetujuan pemasaran dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Pengembangan Bio-TCV mencerminkan upaya Bio Farma untuk memperkuat penguasaan teknologi konjugasi serta meningkatkan kapasitas produksi vaksin nasional. Upaya tersebut disertai komitmen untuk menjaga ketersediaan produk secara berkelanjutan, memperluas akses, serta menghadirkan vaksin berkualitas dengan harga yang kompetitif. Penerimaan masyarakat juga didukung melalui kolaborasi dengan organisasi profesi kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, akademisi, serta edukasi berbasis bukti ilmiah.
Pengembangan lainnya adalah Bio-RV, vaksin rotavirus neonatal hasil kolaborasi Bio Farma dengan Murdoch Children’s Research Institute (MCRI), yang telah memperoleh Nomor Izin Edar dari BPOM pada 2 September 2026. Pengembangannya melibatkan penelitian, uji praklinis dan klinis, alih teknologi, serta penyiapan manufaktur di Indonesia melalui kerja sama dengan akademisi nasional dan mitra global.
Bio-RV membuka peluang perlindungan terhadap penyakit akibat rotavirus sejak dini. Penguasaan proses pengembangan dan manufaktur vaksin ini di dalam negeri diharapkan dapat memperkuat ketersediaan dan keberlanjutan pasokan vaksin, sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk impor. Pengembangan Bio-TCV dan Bio-RV menunjukkan bagaimana kolaborasi dan penguasaan teknologi diarahkan untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat serta memperkuat kemampuan industri vaksin nasional.
Dalam penyelenggaraan TEI ke-41, Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menargetkan nilai transaksi perdagangan mencapai 17,5 miliar dolar AS, meningkat dari target tahun sebelumnya sebesar 16,5 miliar dolar AS. Ia mengapresiasi kontribusi eksportir dan seluruh pihak yang mendukung pertemuan produk nasional dengan pembeli internasional.
“Kami berharap capaian transaksi dagang Trade Expo Indonesia sesuai target, bahkan mudah-mudahan melebihi target,” kata Budi.
Sebagai BUMN life science yang merupakan bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, Bio Farma berkomitmen untuk memperkuat daya saing global sekaligus mendukung kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional. Penguatan tata kelola, pengembangan kapasitas dan inovasi, serta kolaborasi yang menghubungkan riset, produksi, distribusi, dan layanan kesehatan menjadi bagian dari arah transformasi perusahaan. Melalui langkah tersebut, Bio Farma terus berupaya mendukung akses, ketersediaan, dan keberlanjutan produk serta layanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia. (Pun)***







Komentar