KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Dalam acara yang digelar di Balai Pasundan, Gedung Bank Indonesia Bandung ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Bandung bersama seluruh pemangku kepentingan pentahelix, meluncurkan dua agenda strategis yang akan menjadi kompas pembangunan ekonomi daerah ke depan, yaitu Kick Off West Java Economic Society (WJES) 2026 dan Peluncuran Buku “52 Khutbah Jumat Ekonomi Syariah: Gaung Eksyar” pada Senin (27/42026).
Di tengah dinamika perekonomian global yang masih diliputi ketidakpastian, seperti volatilitas harga energi dan pangan, perubahan kebijakan moneter global, serta meningkatnya risiko fragmentasi geoekonomi yang berpotensi memengaruhi perdagangan dan investasi, perekonomian Jawa Barat menunjukkan kinerja yang tetap tangguh dengan pertumbuhan mencapai 5,32% (yoy) tahun 2025, meskipun tekanan inflasi masih perlu diwaspadai dengan capaian 3,60% (yoy) pada Maret 2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Muhammad Nur, menyampaikan bahwa pada tahun 2026, perekonomian Jawa Barat diprakirakan meningkat dibandingkan tahun 2025 dan berada pada kisaran 4,9–5,7% (yoy).
“Didorong oleh peningkatan konsumsi RT, peningkatan investasi, serta kinerja beberapa LU utama seperti industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, transgud, serta akmamin. Di sisi lain, inflasi diproyeksikan tetap terjaga dalam sasaran 2,5±1% (yoy), dengan dinamika tahun berjalan yang turut dipengaruhi oleh kebijakan penyesuaian harga yang diatur pemerintah,” jelasnya.
Sejalan dengan itu, WJES 2026 diarahkan sebagai wadah kolaborasi pentahelix dengan tema “Penguatan Ketahanan dan Transformasi Ekonomi Jawa Barat untuk Pertumbuhan yang Inklusif dan Berdaya Saing”. WJES menghadirkan 6 (enam) subtema strategis, mulai dari green and circular economy, ekonomi syariah, transformasi digital dan inklusi keuangan, ketahanan pangan dan rantai pasok, optimalisasi investasi dan infrastruktur, serta pemerataan pembangunan. Sebagai langkah konkret, dibuka kompetisi Call for Recommendative Papers (CFRP) 2026 dengan total hadiah puluhan juta rupiah untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Bank Indonesia Jawa Barat.
Pada kesempatan yang sama, turut diluncurkan Buku “52 Khutbah Jumat Ekonomi Syariah: Gaung Eksyar” sebagai bagian dari program Gerakan Khatib Unggul Ekonomi dan Keuangan Syariah (Gaung Eksyar). Buku ini disusun oleh para pakar ekonomi dan keuangan syariah kaliber nasional, antara lain Adiwarman Azwar Karim, Prof. Dr. M. Syafii Antonio, dan KH. Muhammad Cholil Nafis, serta menghadirkan inovasi penggunaan Bahasa Sunda pada sebagian naskahnya untuk memperkuat kedekatan pesan dengan masyarakat.
Inisiatif ini diharapkan dapat mengakselerasi peningkatan literasi ekonomi syariah nasional dari 50,18% pada tahun 2025 menuju 70% pada tahun 2030,” kata M. Nur.
Gagasan tersebut juga memperoleh apresiasi dari tokoh nasional, di antaranya Prof. Dr. K.H. Didin Hafidhuddin dan Prof. Dr. KH. Miftah Faridl, yang menilai bahwa buku ini menjadi pelita bagi para khatib dalam menyampaikan dakwah ekonomi syariah yang lebih aplikatif dalam mendorong pemberdayaan ekonomi umat.
Arahan Gubernur Provinsi Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan pentingnya forum seperti WJES sebagai ruang strategis kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam memperkuat ekonomi daerah. KDM mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi Jawa Barat serta peran Bank Indonesia dan ISEI.
“Dalam menjaga stabilitas dan mendorong transformasi ekonomi,” ujarnya.
Namun demikian, KDM juga menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari angka, melainkan juga harus diikuti perubahan paradigma masyarakat menuju ekonomi yang lebih produktif.
Selain itu juga ditekankan bahwa rekomendasi WJES harus berpijak pada realitas lapangan, khususnya dalam penguatan sektor produksi berbasis desa, ekonomi syariah, dan ekonomi hijau, dengan semangat kolaborasi pentahelix yang ia gambarkan sebagai “sareundeuk saigel sabobot sapihanean”
Dalam rangkaian kegiatan, Ketua ISEI Bandung Koordinator Jawa Barat, Martha Fani Cahyandito, turut menyampaikan bahwa WJES 2026 merupakan wadah kolaborasi strategis atau ritus intelektual untuk memperkuat ketahanan dan transformasi ekonomi Jawa Barat menuju pertumbuhan yang inklusif dan berdaya saing.
“Melalui sinergi akademisi, Bank Indonesia, dan pemerintah, WJES diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi nyata seperti penguatan ekosistem pangan melalui BUMDes,” ungkapnya.
Percepatan digitalisasi UMKM, serta investasi padat karya dalam rangka mewujudkan visi “Provinsi Tangguh” hingga ke pelosok daerah. Ia juga menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Muhammad Nur yang dinilai berhasil membangun ekosistem kolaborasi yang humanis dan menjadikan Bank Indonesia sebagai “Rumah Besar Kolaborasi” di Jawa Barat.
Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi turut menjadi aktor perubahan. Para peneliti dan akademisi diundang berkontribusi melalui riset solutif dalam Call for Recommendative Papers (CFRP) 2026 dengan mengirimkan naskah sebelum 30 Juni 2026. Para khatib dan pengelola masjid didorong memanfaatkan buku “Gaung Eksyar” sebagai panduan khutbah untuk memperluas literasi ekonomi syariah. Sementara itu, masyarakat umum pun diharapkan berpartisipasi aktif dalam rangkaian Sarasehan Ekonomi di Cirebon (21/5/2026), Tasikmalaya (18/6/2026), dan Bandung (22/6/2026) sebagai ruang penyampaian aspirasi dan penguatan sinergi pembangunan daerah. (Pun)***

Komentar