Wirausaha, Hafidz 30 Juz, hingga Lintas Iman: Potret Inspiratif Lulusan Unisba Gelombang I

KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Kisah inspiratif mewarnai momen wisuda Gelombang I T.A. 2025/2026 di Universitas Islam Bandung. Dua lulusan dari latar belakang berbeda, Alya Detya Setiani dan Parvesh Santosh Daswani, menunjukkan bahwa ketekunan, kemandirian, dan sikap terbuka mampu mengantarkan mahasiswa meraih prestasi akademik sekaligus pengalaman hidup berharga.

Alya Detya Setiani, wisudawan Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, lulus dengan IPK 3,93 berpredikat Pujian.

Lahir di Bandung, 15 Januari 2002, Alya dikenal sebagai sosok gigih yang menjalani perkuliahan sambil berwirausaha. Sejak awal kuliah, ia merintis usaha kuliner rumahan dengan menjual seblak, cireng isi, sempol, mochi, hingga aneka minuman. Tak hanya melayani pembeli di rumah, Alya juga memasok produk milidi ke warung-warung serta membuka layanan pre-order.

Di tengah kesibukan akademik dan usaha, Alya tetap aktif mengajar di DTA Al-Muqoromah setiap sore selepas Magrib. Baginya, kunci menjalani berbagai peran adalah disiplin dalam mengatur prioritas.

“Kuliah tetap menjadi fokus utama. Skala prioritas membantu saya membagi waktu antara tugas, mengajar, dan berjualan,” ujarnya. Ketekunan tersebut turut membawanya meraih Beasiswa Jabar Future Leaders Scholarship (JFLS) serta Beasiswa Baitul Maal Unisba.

Perjalanan Alya juga mencerminkan keteguhan dalam menuntut ilmu agama. Sebelum kuliah, ia menempuh pendidikan di Ma’had Quran Rabbani dan menyelesaikan hafalan 30 juz. Beasiswa yang diterimanya bukan sekadar bantuan finansial, tetapi juga sarana pengembangan diri.

“Selain meringankan beban orang tua, program beasiswa membentuk soft skill, hard skill, dan menjaga hafalan melalui murojaah,” tuturnya. Ia berharap ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat dan usahanya terus berkembang.

Inspirasi serupa datang dari Parvesh Santosh Daswani, lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Manajemen. Lahir di Jakarta, 2 November 2002, Parvesh lulus dengan IPK 3,63 berpredikat Sangat Memuaskan.

Mahasiswa beragama Kristen Protestan ini memiliki latar belakang keluarga multikultural, dengan ayah keturunan India dan ibu asal Surabaya. Selama kuliah, ia aktif membantu orang tua berjualan kain di Pasar Baru.

Parvesh mengaku awalnya sempat ragu memilih kampus berbasis Islam. Namun, pengalaman yang dijalaninya justru melampaui ekspektasi. Ia merasakan lingkungan akademik yang inklusif dan penuh toleransi.

“Saya merasa sangat diterima. Dosen dan teman-teman merangkul tanpa diskriminasi. Ini pengalaman berharga tentang keberagaman,” ungkapnya. Bahkan, ia berkesempatan mengikuti program student exchange selama satu semester di Kuala Lumpur, Malaysia melalui UniKL (Universiti Kuala Lumpur).

Menurut Parvesh, perbedaan bukanlah hambatan untuk berkembang. Ia mendorong calon mahasiswa agar tidak ragu memilih institusi pendidikan berdasarkan stigma. “Yang terpenting adalah kualitas pendidikan dan kemauan untuk belajar. Justru di sini saya belajar toleransi secara nyata,” katanya.

Kisah Alya dan Parvesh menjadi potret semangat mahasiswa Unisba yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan hidup. Ketekunan, kerja keras, dan sikap saling menghargai menjadi nilai yang memperkaya perjalanan mereka menuju gerbang kelulusan.***

Komentar