KABUPATEN BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) -Lantunan gema takbir dan talbiyah terdengar bersahut-sahutan dari selasar kelas, memecah keheningan pagi di lingkungan PGTK 2 Darul Hikam hari ini. Dengan langkah-langkah kecil yang penuh semangat, puluhan anak usia dini berjalan rapi menuju area utama ibadah. Mengenakan pakaian terbaik dan menebarkan aroma wewangian khas sunnah hari raya, raut wajah ceria dan antusiasme alami terpancar jelas dari para siswa sepanjang mengikuti jalannya Pendidikan Simulasi Salat Idul Adha.
Kegiatan yang konsisten dilaksanakan setiap tahun ini dikemas dalam bentuk pembelajaran kontekstual lapangan (experiential learning). Langkah ini diambil pihak sekolah agar anak-anak tidak sekadar menghafal teori keagamaan di buku, melainkan bisa merasakan langsung atmosfer dan ekosistem ibadah menyambut Hari Raya Kurban secara riil namun tetap ramah anak.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum PGTK 2 Darul Hikam, Kinkin Rosmawati, menyampaikan bahwa visualisasi nyata di lapangan sangat penting bagi pembentukan memori jangka panjang anak usia dini. Pembelajaran hari ini sengaja dimulai sejak anak-anak mempersiapkan diri dari rumah hingga adab memasuki area ibadah.
“Hari ini anak-anak melaksanakan kegiatan yang diawali dengan mengenalkan sunnah-sunnah di Hari Raya, seperti memperhatikan pakaian yang digunakan, menyiapkan diri, dan menggunakan wewangian. Anak-anak juga berjalan dari kelas menuju tempat Salat Idul Adha sambil melantunkan talbiyah dan takbir. Selain itu, anak-anak juga melaksanakan infaq,” ujar Kinkin Rosmawati, saat ditemui di PGTK 2 Darul Hikam, Rancaekek, Kab. Bandung, pada Selasa(26/05/2026).
Melalui runtunan aktivitas yang terstruktur, para siswa diperkenalkan secara bertahap pada tata cara ibadah salat Id. Pengenalan sejak dini ini ditargetkan menjadi fondasi yang kuat bagi mereka sebelum menjalankan ibadah sesungguhnya di tengah masyarakat.
“Hari ini anak-anak dikenalkan pada kegiatan yang biasanya dilakukan saat Hari Raya Idul Adha, yaitu salat bersama dan mengenal tata cara Salat Idul Adha itu sendiri. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan kepada anak-anak apa saja yang perlu dilakukan dalam menyambut dan melaksanakan Hari Raya Idul Adha,” tambah Kinkin.
Lebih dari sekadar latihan gerakan fisik, momentum simulasi ini juga dimanfaatkan jajaran tenaga pendidik sebagai sarana menanamkan aspek spiritualitas yang mendalam. Agenda ini sekaligus bertindak sebagai jembatan edukasi sebelum program pemotongan dan pembagian hewan kurban sekolah dilaksanakan pasca-hari raya.
“Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun. Biasanya anak-anak melaksanakan pendidikan kurban setelah Hari Raya Idul Adha. Alhamdulillah, hari ini anak-anak berkesempatan melaksanakan simulasi yang juga memiliki tujuan pendidikan. Selain meneladani kisah Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim, anak-anak juga ditanamkan nilai keikhlasan untuk berbagi dan taat kepada Allah melalui infaq dan berbagai kebaikan yang diteladankan oleh ibu guru melalui berbagi bingkisan,” jelasnya mengenai target kurikulum penanaman karakter mulia anak.
Suasana simulasi terpantau semakin ceria dan interaktif berkat hadirnya sosok guru tambahan, Ustadz Awi. Pendekatannya yang komunikatif cukup membantu anak-anak belajar lebih interaktif, tanpa menghilangkan kesakralan dari tata cara pelaksanaan ibadah itu sendiri.
“Alhamdulillah, anak-anak hari ini sangat antusias dengan kegiatan yang dilaksanakan. Bahkan anak-anak happy sekali hari ini karena kegiatan simulasi ini bukan hanya didampingi oleh ibu guru, tetapi juga ada satu guru tambahan yaitu Ustadz Alwi. MasyaAllah, Ustadz Awi juga sangat menyatu dengan anak-anak sehingga anak-anak semakin happy mengikuti kegiatan hari ini,” ungkap Kinkin menutup wawancara.
Melalui kombinasi metode simulasi langsung, keterlibatan aktif siswa dalam belajar berinfaq, serta pendampingan yang penuh kasih sayang dari para guru, jajaran kurikulum berharap kegiatan ini mampu membakar semangat orisinal anak-anak dalam merayakan Hari Raya Idul Adha yang sesungguhnya bersama keluarga di rumah esok hari.***













Komentar