Pertama di Dunia, ITB Kembangkan Produk Pepton dari Larva Black Soldier Fly

Atasi Ketergantungan Produk Impor-Kurangi Limbah Organik

JATINANGOR (TUGUBANDUNG.ID) – Tim peneliti Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB) mengembangkan pepton berbasis biomassa lokal dari larva lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF). Inovasi ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pepton impor sekaligus menghadirkan solusi berkelanjutan dalam pengolahan limbah organik.

Produk tersebut merupakan hasil riset bertajuk “Produksi Hidrolisat Protein dari Lalat Tentara Hitam sebagai Alternatif Pepton Komersial” yang dipimpin Dr. Ir. Muhammad Yusuf Abduh, M.T., dari Kelompok Keahlian Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk SITH ITB serta melibatkan mahasiswa dan alumni. Pengembangan ini diharapkan memberikan manfaat bagi laboratorium mikrobiologi, pelaku industri bioteknologi, produsen pupuk hayati, serta masyarakat melalui berkurangnya limbah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan larva BSF.

Pepton merupakan sumber nutrisi penting yang digunakan sebagai media pertumbuhan mikroba dalam kegiatan laboratorium dan proses produksi di industri bioteknologi. Namun, kebutuhan terhadap bahan tersebut masih dipenuhi melalui produk impor dengan harga yang relatif tinggi, yakni sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta per kilogram.

Menurut Yusuf, kondisi tersebut menjadi pendorong timnya mengembangkan pepton dari sumber daya lokal yang mudah diperoleh dan memiliki manfaat lingkungan.

“Saat ini semua pepton masih diimpor dari luar negeri dan belum ada yang diproduksi di dalam negeri. Karena itu, kami berinovasi menghasilkan pepton dari biomassa lokal, dalam hal ini larva Black Soldier Fly,” ujarnya di Laboratorium SITH ITB Kampus Jatinangor, Jumat (19/6/2026).

Berdasarkan estimasi dalam penelitian, kebutuhan pepton di Indonesia mencapai 13,9 juta kilogram per tahun. Tingginya kebutuhan tersebut menunjukkan besarnya peluang pengembangan produk pepton dalam negeri.

Menghubungkan Industri Bioteknologi dan Pengelolaan Limbah

Pemanfaatan larva BSF memberikan nilai tambah karena serangga tersebut mampu mengonsumsi dan mengurai berbagai jenis limbah organik. Dengan demikian, pengembangan pepton tidak hanya menghasilkan bahan baku bagi industri bioteknologi, tetapi juga membuka peluang penerapan sistem ekonomi sirkular.

Larva BSF yang dibudidayakan menggunakan limbah organik dapat diproses menjadi sumber protein, kemudian dimanfaatkan sebagai bahan dasar pepton. Pendekatan ini berpotensi membantu mengurangi volume limbah organik di lingkungan masyarakat sekaligus menciptakan produk bernilai ekonomi.

Inovasi tersebut juga diharapkan dapat menurunkan biaya produksi berbagai produk berbasis mikroba, termasuk pupuk organik cair atau Liquid Organic Biofertilizer. Pepton lokal yang lebih terjangkau akan mendukung pertumbuhan mikroba yang dibutuhkan dalam proses produksi pupuk hayati.

Membuka Peluang Komersialisasi

Yusuf berharap hasil penelitian tersebut dapat dikembangkan menuju tahap komersialisasi melalui kerja sama dengan industri dan investor. Besarnya permintaan terhadap pepton serta belum adanya produk sejenis berbasis serangga menjadi peluang bagi Indonesia untuk menghadirkan inovasi baru di pasar bioteknologi.

“Harapan kami, penelitian ini dapat dikomersialisasikan dan menarik perhatian investor. Kami ingin menjadi produsen pertama yang menghasilkan pepton dari serangga, khususnya lalat tentara hitam, sehingga inovasi ini dapat membantu menyelesaikan persoalan sampah sekaligus mendukung pertumbuhan industri bioteknologi di Indonesia,” katanya.

Pengembangan pepton dari larva BSF merupakan upaya riset perguruan tinggi untuk menjawab lebih dari satu tantangan sekaligus, mulai dari ketergantungan terhadap bahan impor, tingginya biaya produksi bioteknologi, hingga persoalan limbah organik. Inovasi ini pun berpotensi memperkuat kemandirian industri nasional, menciptakan peluang ekonomi baru, dan mendorong pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. (Pun)***

Komentar