KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Ramadhan pertama setelah memeluk Islam menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Cyntia (33 tahun). Perempuan yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Cihanjuang itu masih mengingat bagaimana ia menjalani bulan suci tersebut dengan perasaan haru sekaligus penuh pembelajaran.
Cyntia mengucapkan syahadat pada Desember 2020. Artinya, beberapa bulan setelah itu ia langsung menjalani Ramadhan pertamanya sebagai seorang Muslim. Jika sebelumnya ia hanya terbiasa ikut berpuasa sejak kecil, Ramadhan kali ini terasa berbeda karena ia mulai menjalankan seluruh rangkaian ibadah sebagai mualaf. “Sebelumnya saya memang sering puasa sejak SD, tapi Ramadhan setelah syahadat rasanya berbeda. Bukan hanya puasa, tapi juga mulai belajar shalat,” ujar Cyntia.
Pengalaman itu tidak selalu mudah. Pada awalnya, ia mengaku sempat menangis ketika mencoba melaksanakan shalat karena belum mampu membaca bacaan-bacaannya dengan lancar. “Saya sempat menangis waktu pertama belajar shalat karena tidak bisa bacaannya,” kata dia.

Cyntia kemudian belajar secara bertahap. Ia memanfaatkan buku panduan shalat, video pembelajaran di internet, serta bantuan dari teman-temannya yang dengan sabar membimbingnya. Meski demikian, perjalanan belajarnya semakin terarah setelah ia mulai mengikuti kegiatan pembinaan di Masjid Lautze Bandung. Di masjid tersebut, ia menemukan ruang belajar sekaligus komunitas yang mendampinginya memahami Islam lebih dalam.
Beberapa tahun terakhir, Cyntia juga mulai aktif terlibat dalam kegiatan Ramadhan di masjid tersebut. Salah satunya membantu kegiatan berbagi takjil dan berbagai agenda sosial yang rutin digelar setiap bulan puasa. Ia biasanya datang pada sore hari setelah bekerja untuk membantu menyiapkan hidangan berbuka bagi jamaah. “Kalau ada kegiatan berbagi takjil atau makanan, saya biasanya bantu merapikan atau menyiapkan. Kadang juga ikut saat pembagian,” ujarnya.
Kegiatan-kegiatan tersebut membuatnya semakin akrab dengan komunitas di Masjid Lautze. Melalui aktivitas sederhana itu pula, ia merasa memiliki ruang untuk terus bertumbuh.
Menurut Cyntia, Masjid Lautze Bandung tidak hanya menjadi tempat berkegiatan, tetapi juga tempat ia belajar memahami ajaran Islam secara bertahap. Setiap pekan ia mengikuti pembinaan dan pengajian yang membantu para mualaf memperdalam pengetahuan agama.
Di sanalah ia mulai mempelajari huruf-huruf hijaiyah dari dasar, memahami bacaan Al-Qur’an, serta memperbaiki gerakan dan bacaan dalam shalat. “Awalnya saya benar-benar belajar dari nol, mulai dari huruf hijaiyah. Di sini juga ada pengajian dan tadabbur yang membantu kami belajar sedikit demi sedikit,” kata Cyntia.
Ia bahkan pernah meminta teman-temannya untuk menguji hafalan huruf hijaiyah seperti anak kecil yang baru belajar membaca. Dalam beberapa bulan, ia berhasil mengenal seluruh huruf dasar, meski hingga kini ia masih terus memperbaiki bacaan Al-Qur’annya.

Bagi Cyntia, proses belajar tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan spiritualnya. Ia menyadari bahwa menjadi Muslim bukan hanya soal perubahan identitas, tetapi juga tentang kesediaan untuk terus belajar. “Yang penting sebenarnya niat dari diri sendiri. Walaupun belajarnya sebentar-sebentar, kalau memang mau belajar pasti ada jalannya,” ujarnya.
Kini, lima tahun setelah memeluk Islam, Ramadhan menjadi momen yang selalu ia nantikan. Selain memperbanyak ibadah, bulan suci itu juga menjadi kesempatan baginya untuk terlibat lebih dekat dalam kegiatan komunitas di Masjid Lautze Bandung.
Dari pengalaman itu, Cyntia belajar bahwa perjalanan iman tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika semangat menurun atau kesibukan membuat ibadah tertunda.Namun baginya, kembali mendekatkan diri kepada Allah selalu menjadi cara untuk menata hati dan menguatkan langkah. “Perjalanan ini pasti ada naik turunnya. Tapi saya selalu ingat lagi tujuan awal ketika memilih menjadi Muslim,” kata Cyntia.
Program pendampingan muallaf yang diselenggarakan Masjid Lautze Bandung bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat Rumah Amal Salman sebagai bentuk penyaluran dana zakat. Selain Lautze, beberapa komunitas muallaf lainnya pun ada yang didampingi terutama yang masuk dalam Mitra Rumah Amal. (Pun)***







Komentar