Kemendukbangga Evaluasi Quick Wins 2025: Lima Program Prioritas Didorong Wujudkan Keluarga Berkualitas

KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menggelar Evaluasi Pelaksanaan Quick Wins dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2025 untuk Program Bangga Kencana dan Sub Bidang Keluarga Berencana.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat di Grand Sunshine, Soreang, Kabupaten Bandung.

Sekretaris Kemendukbangga/Sekretaris Utama BKKBN, Prof. Budi Setiyono, S.Sos., M.Pol.Admin., Ph.D, menegaskan bahwa kegiatan evaluasi ini merupakan bagian dari upaya konsolidasi antara Kemendukbangga dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) KB serta Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD).

“Evaluasi ini bertujuan agar OPD KB memahami konstruksi kebijakan dan program Kemendukbangga yang dijalankan melalui Dana Alokasi Khusus dari Transfer ke Daerah (TKD) APBN, berupa Bantuan Operasional Keluarga Berencana (BOKB),” jelas Prof. Budi.

Ia menambahkan, evaluasi juga menjadi momen penting pasca transformasi nomenklatur dari BKKBN menjadi Kemendukbangga. Diharapkan, sinergitas antara pusat dan daerah semakin kuat agar pencapaian target pembangunan keluarga berkualitas dapat berjalan sesuai peta jalan (roadmap) yang telah ditetapkan.

Lima Program Prioritas Quick Wins 2025

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Budi memaparkan lima program prioritas atau Quick Wins Kemendukbangga yang menjadi fokus pembangunan keluarga berkualitas:

1. Optimalisasi Bonus Demografi
Program ini mendorong pemanfaatan potensi usia produktif melalui berbagai inisiatif peningkatan produktivitas dan pemberdayaan masyarakat.

2. Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak)
Program ini dirancang untuk mendukung ibu bekerja agar tetap dapat berkarier tanpa meninggalkan tanggung jawab pengasuhan anak.

“Kini sudah ada lebih dari 3.000 Tamasya di seluruh Indonesia. Melalui pelatihan, sertifikasi, dan pembinaan, kita dorong partisipasi kerja perempuan terus meningkat,” ujar Budi.

3. GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia)
Gerakan ini bertujuan menumbuhkan peran aktif ayah dalam keluarga agar tercipta lingkungan pengasuhan yang seimbang dan positif.

4. Sidaya (Lansia Berdaya)
Program ini memberdayakan penduduk lanjut usia agar tetap produktif, sehat, dan mandiri.

“Kita ingin lansia bisa menjalani hidup dengan independen, tanpa harus bergantung pada generasi muda,” tambah Budi.

5. Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting)
Program ini menjadi ujung tombak dalam pencegahan stunting melalui kolaborasi lintas sektor. Data Keluarga Berisiko Stunting (KBS) digunakan untuk memetakan sasaran intervensi secara akurat.

Bersama Badan Gizi Nasional (BGN), Kemendukbangga juga menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD, sebagai langkah konvergensi penurunan prevalensi stunting.

“Kita targetkan prevalensi stunting bisa di bawah 10 persen pada 2029, bahkan turun hingga di bawah 5 persen menjelang 2045,” tegas Budi.

Ia menutup dengan pesan penting tentang masa depan generasi Indonesia:

“Anak yang lahir dalam keadaan stunting tidak memiliki kesempatan optimal untuk tumbuh sehat dan produktif. Karena itu, pencegahan sejak dini menjadi prioritas mutlak agar tidak ada lagi anak Indonesia yang tumbuh menjadi beban bagi orang lain,” pungkasnya.***

Komentar