ITB Dorong Antisipasi El Nino 2026–2027 Berbasis Risiko, Perkuat Ketahanan Air dan Pangan

KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) — Pusat Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung (PPI ITB) mendorong masyarakat dan pemangku kepentingan untuk tidak sekadar melihat El Nino sebagai ancaman kekeringan, tetapi memahami risiko dan peluangnya secara lebih tepat sesuai wilayah dan sektor. Pesan tersebut mengemuka dalam talkshow interaktif “El Nino Sangat Kuat 2026–2027 dan Potensi Dampaknya di Indonesia”, di Auditorium Lantai 8 Gedung PAU ITB, Kamis (13/8/2026).

Forum yang melibatkan pakar ITB dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tersebut digelar untuk meningkatkan literasi publik dan media mengenai El Nino–Southern Oscillation (ENSO) berdasarkan sains. PPI ITB menekankan bahwa El Nino merupakan fenomena iklim di Samudra Pasifik tropis yang dapat memengaruhi pola hujan di Indonesia, tetapi dampaknya tidak selalu sama di setiap wilayah, waktu, maupun sektor.

Kepala PPI ITB, Prof. Ir. Djoko Santoso Abi Suroso, Ph.D., menekankan pentingnya mengubah pola penanganan dari responsif atau bertindak setelah bencana terjadi menjadi berbasis risiko, yakni melakukan persiapan sebelum dampak mencapai kondisi kritis.

“Yang ingin kami luruskan adalah cara memahami El Nino. Fenomenanya terjadi di Samudra Pasifik, tetapi bagi masyarakat Indonesia yang paling penting adalah mengetahui apa dampaknya di wilayah mereka, seberapa besar risikonya, dan apa yang perlu diantisipasi,” ujarnya.

Menurutnya, pola dampak El Nino telah berulang di Indonesia. Karena fenomenanya dapat dipantau dan diprediksi beberapa bulan sebelumnya, informasi iklim seharusnya dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah antisipasi, termasuk pada sektor pangan, sumber daya air, energi, hingga mitigasi kebakaran hutan dan lahan.

Dampaknya Tidak Sama di Setiap Daerah

Diskusi tersebut dimoderatori Dr. Muhammad Rais Abdillah, S.Si., M.Sc., Kepala Divisi Sains Iklim PPI ITB sekaligus Ketua Program Studi Sarjana Meteorologi ITB.

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Dr. A. Fachri Radjab, S.Si., M.Si., menjelaskan kondisi dan perkembangan musim di Indonesia. Pada periode puncak kemarau, kewaspadaan tetap diperlukan terhadap potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan, terutama pada wilayah yang mengalami kondisi lebih kering dari biasanya.

“Sementara memasuki masa peralihan menuju musim hujan, masyarakat perlu mewaspadai potensi cuaca ekstrem, seperti hujan lebat dan angin kencang,” ujar Dr. Fachri.

Ketua Tim Pakar PPI ITB sekaligus dosen Program Studi Doktoral Meteorologi ITB, Dr. Tri Wahyu Hadi, M.Sc., menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena interaksi laut dan atmosfer di Samudra Pasifik. Ketika El Nino terjadi, perubahan suhu muka laut dan sirkulasi atmosfer dapat mengurangi pasokan uap air ke sebagian wilayah Indonesia sehingga curah hujan menurun.

“Dampaknya dapat merambat ke berbagai sektor, mulai dari menurunnya produksi pertanian, berkurangnya pasokan air sungai dan waduk, penurunan produksi listrik berbasis tenaga air, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan,” ungkap Dr. Tri Wahyu.

Dampak tersebut, menurutnya, tidak seragam karena dipengaruhi oleh musim dan karakteristik masing-masing wilayah.

Antisipasi Air dan Pangan Sejak Dini

Pada sektor sumber daya air, Fikry Purwa Lugina, S.Si., M.Eng., Ph.D., Peneliti Bidang Bahaya dan Risiko Sektor Air PPI ITB sekaligus dosen Meteorologi ITB, menjelaskan bahwa kekeringan dapat berkembang secara bertahap. Defisit hujan dapat menurunkan kelembapan tanah, mengurangi aliran permukaan dan pengisian air tanah, kemudian berlanjut pada penurunan debit sungai hingga mengganggu ketersediaan air bagi masyarakat.

Oleh karena itu, informasi prakiraan perlu diikuti tindakan nyata. “Terjemahkan prakiraan menjadi keputusan, bukan sekadar informasi,” katanya.

Langkah antisipasi dapat dilakukan dengan memantau curah hujan, debit sungai, muka air waduk dan air tanah, mengatur penggunaan serta alokasi air, menyiapkan sumber alternatif, hingga memperkuat kapasitas tampungan dan konservasi daerah aliran sungai.

Sementara itu, Peneliti Senior Bidang Bahaya dan Risiko Sektor Pertanian PPI ITB dan BRIN, Dr. Elza Surmaini, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa dampak El Nino pada produksi padi berbeda antarwilayah. Berdasarkan data yang dipaparkannya, pada periode 1990–2024 penurunan produksi padi akibat El Nino secara nasional berkisar 0,5–1,7 juta ton. Namun, tidak semua wilayah mengalami penurunan produksi.

“Peningkatan kapasitas adaptasi petani menjadi salah satu kunci untuk menekan risiko tersebut. Upaya yang dapat dilakukan meliputi penguatan sistem informasi dan peringatan dini cuaca dan iklim, penyesuaian kalender tanam, penggunaan varietas toleran kekeringan atau berumur genjah, efisiensi penggunaan air, serta diversifikasi tanaman,” papar Dr. Elza.

El Nino pun tidak selalu membawa dampak negatif. Kondisi yang lebih kering pada wilayah tertentu dapat membuka peluang bagi peningkatan produksi garam dan perikanan tangkap melalui fenomena upwelling. Pada lahan rawa lebak, turunnya muka air juga dapat membuka kesempatan untuk memperluas areal tanam padi dan meningkatkan produksi.

Melalui forum tersebut, PPI ITB mengajak masyarakat untuk tidak berhenti pada label “El Nino kuat”, tetapi memahami bagaimana dampaknya dapat muncul, wilayah dan sektor mana yang paling berisiko, serta langkah yang dapat dilakukan sejak dini. Dengan informasi iklim yang diterjemahkan menjadi tindakan, risiko dapat ditekan dan peluang yang muncul dapat dimanfaatkan secara optimal. (Pun)***

Komentar