KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Inflasi Jawa Barat pada September 2026 tetap ter jaga dalam rentang sasaran inflasi nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Jawa Barat mencatat inflasi sebesar 0,2 3% (mtm), 2,10% (ytd),
atau 3,16% (yoy). Capaian inflasi tahunan Jawa Barat tersebut masih berada pada rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1% (yoy), dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,28% (yoy).
Perkembangan tersebut menunjukkan stabilitas harga di Jawa Barat yang tetap terjaga, didukung oleh penguatan sinergi dan konsistensi langkah pengendali an infl asi oleh TPID di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
Ke depan, tekanan inflasi masih perlu diwaspadai, terutama bersumber dari instabilitas geopolitik global, dinamika harga global, dan potensi gangguan pasokan pangan akibat musim kemarau yang lebih panjang. Koordinasi TPID perlu terus diperkuat melalui implementasi strategi 4K dalam pengendalian inflasi untuk menjaga inflasi Jawa Barat tetap berada dalam rentang sasaran.
Inflasi bulanan Jawa Barat terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang memberikan andil inflasi sebesar 0,16% (mtm). Komoditas yang menyumbang inflasi, diantaranya cabai rawit, beras, daging dan telur ayam ras. Musim kemarau yang cukup
panjang mendorong kenaikan harga pada komoditas cabai rawit dan beras. Sementara itu, k enaikan harga daging dan telur ayam ras terutama didorong oleh kenaikan biaya produksi akibat tingginya harga pakan
ternak.
Kelompok Pendidikan juga turut menyumbang inflasi sebesar 0,02% sejalan dengan kenaikan biaya perguruan tinggi. Perkembangan inflasi Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau tersebut perlu
menjadi perhatian utama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) khususnya selama tiga bulan ke depan seiring potensi penurunan produksi karena musim kemarau dan kenaikan permintaan menjelang HBKN Nataru.
Seluruh daerah pantauan IHK Jawa Barat mengalami inflasi bulanan. Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kabupaten Bandung sebesar 0,39% (mtm), sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Sukabumi sebesar
0,13% (mtm). Adapun inflasi tahunan tertinggi dialami oleh Kota Bandung sebesar 3,35% (yoy), diikuti oleh Kabupaten Bandung sebesar 3,23% (yoy) dan Kota Bekasi sebesar 3,17% (yoy).
Bank Indonesia bersama TPID di seluruh Jawa Barat terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui strategi 4K. Dari sisi keterjangkauan harga, pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) ditingkatkan menjadi 113 titik selama bulan September 2026 . Upaya tersebut turut didukung dengan penguatan
Cadangan Pangan Pemerintah Daerah, perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) antara daerah produsen dan konsumen, serta pembangunan jaringan irigasi untuk menjaga ketersediaan pasokan. Selain itu, Bulog
terus mengoptimalkan penyaluran beras guna me mperkuat stabilitas harga pangan.
Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) dalam implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan
Sejahtera (GPIPS) guna mengendalikan inflasi termasuk antisipasi dampak cuaca (El Nino) terhada p harga pangan. Langkah tersebut diperkuat dengan berbagai upaya mitigasi untuk menjaga keterjangkauan harga
dan ketersediaan pasokan, sehingga stabilitas harga tetap terjaga dan mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Barat yang berkelanjutan dan berdaya tahan. (Pun)***







Komentar