KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Gaya hidup masyarakat urban yang serba cepat membuat stres dan perubahan pola makan menjadi bagian dari keseharian. Salah satu pola makan yang kini banyak dijalani adalah diet tinggi protein.
Namun, di balik manfaat pola makan tersebut, terdapat persoalan kesehatan mulut yang perlu diperhatikan. Kombinasi tingkat stres yang tinggi dan konsumsi makanan tinggi protein disebut dapat meningkatkan risiko munculnya bau mulut atau halitosis.
Stres dapat memengaruhi kondisi rongga mulut dengan menurunkan produksi air liur sehingga mulut menjadi lebih kering. Padahal, air liur memiliki peran penting dalam membantu membersihkan sisa makanan serta menjaga keseimbangan bakteri di dalam mulut.
Pada saat yang sama, sisa makanan dari pola makan tinggi protein dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan bakteri di rongga mulut. Bakteri tersebut kemudian menghasilkan senyawa sulfur volatil atau Volatile Sulfur Compounds (VSCs), termasuk hidrogen sulfida (H₂S) dan metil merkaptan (CH₃SH), yang berkontribusi terhadap munculnya bau tidak sedap pada napas.
Berdasarkan data Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI yang tercantum dalam materi tersebut, masalah halitosis ditemukan pada 28,6 persen masyarakat. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mulut, tetapi juga dapat memengaruhi rasa percaya diri dan kenyamanan seseorang ketika berinteraksi.
Tingginya kebutuhan terhadap solusi perawatan bau mulut turut tercermin dari perkembangan pasar global. Mengutip laporan Global Halitosis Market dari Mordor Intelligence, nilai pasar produk penanganan bau mulut mencapai USD 14,41 miliar pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 15,93 miliar pada 2026.
Pasar tersebut diperkirakan terus mengalami pertumbuhan hingga mencapai USD 26,36 miliar pada 2031. Pertumbuhan tersebut salah satunya didorong meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan mulut dan kebutuhan akan produk perawatan yang lebih efektif.
Selain bau mulut, masalah gigi sensitif juga menjadi persoalan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Studi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia bersama IQVIA pada 2024 menunjukkan, sebanyak 62 persen responden mengalami frekuensi gigi sensitif yang tinggi.
Dampaknya tidak hanya berupa rasa ngilu. Sebanyak 86 persen penderita dalam studi tersebut mengaku merasa cemas terhadap kemungkinan munculnya rasa sakit saat makan. Kondisi itu bahkan membuat sebagian penderita memilih menghindari kegiatan sosial.
Karena itu, menjaga kebersihan dan kesehatan rongga mulut menjadi bagian penting dari rutinitas sehari-hari, terutama bagi masyarakat dengan tingkat aktivitas tinggi maupun mereka yang menerapkan pola makan tertentu.
Salah satu produk yang hadir dengan pendekatan tersebut adalah usmile Fresh White & Repair White. Kombinasi formula keduanya ditujukan untuk membantu menjaga kebersihan mulut, mengatasi bakteri yang berkaitan dengan bau mulut, sekaligus memberikan perhatian terhadap kebutuhan gigi sensitif.
Perawatan rutin tetap menjadi langkah penting, termasuk menyikat gigi secara teratur, membersihkan sela-sela gigi, menjaga kecukupan asupan air, serta memperhatikan pola makan. Jika bau mulut atau sensitivitas gigi berlangsung terus-menerus, pemeriksaan oleh dokter gigi dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat.***













Komentar