KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Sebanyak 42 karya budaya Jawa Barat berhasil ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia tahun 2025. Dari jumlah tersebut, salah satunya adalah Mendong, kerajinan tangan asal Tasikmalaya.
Sejak puluhan tahun lalu, Mendong telah dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan tangan seperti dompet, tas, tikar, sandal, hingga kap lampu. Meski awalnya dipandang sebelah mata, Mendong nyatanya bisa memberi dampak signifikan terhadap perekonomian warga Tasikmalaya.
Mendong sendiri merupakan salah satu tanaman rawa yang tumbuh subur di wilayah tropis seperti Indonesia. Tanaman ini memiliki batang yang ramping, lentur, dan kuat sehingga mudah dianyam menjadi berabagi jenis kerajinan.
Sejak dahulu, masyarakat pedesaan memanfaatkan Mendong sebagai bahan alami untuk membuat tikar atau alas tidur. Karena karakteristiknya yang berkualitas, kerajinan Mendong mulai diproduksi secara massal di era 1970-an.
Sebanyak 42 karya budaya Jawa Barat berhasil ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia tahun 2025. Dari jumlah tersebut, salah satunya adalah Mendong, kerajinan tangan asal Tasikmalaya.
Sejak puluhan tahun lalu, Mendong telah dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan tangan seperti dompet, tas, tikar, sandal, hingga kap lampu. Meski awalnya dipandang sebelah mata, Mendong nyatanya bisa memberi dampak signifikan terhadap perekonomian warga Tasikmalaya.
Mendong sendiri merupakan salah satu tanaman rawa yang tumbuh subur di wilayah tropis seperti Indonesia. Tanaman ini memiliki batang yang ramping, lentur, dan kuat sehingga mudah dianyam menjadi berabagi jenis kerajinan.
Sejak dahulu, masyarakat pedesaan memanfaatkan Mendong sebagai bahan alami untuk membuat tikar atau alas tidur. Karena karakteristiknya yang berkualitas, kerajinan Mendong mulai diproduksi secara massal di era 1970-an.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat Tasikmalaya mulai berinovasi membuat berbagai kerajinan tangan. Sampai pada akhirnya, Mendong menjadi salah satu produk ekraf unggulan Tasikmalaya yang sudah diekspor ke berbagai negara seperti Malaysia, Jepang, Australia, Belanda, dan Amerika Serikat.
Di balik keistimewaannya, Mendong memiliki makna yang lebih dari sekadar bahan baku kerajinan tangan. Beberapa orang menganggap Mendong sebagai simbol kehidupan. Di tangan para penganyam, serat mendong menjelma menjadi kisah tentang ketekunan, keindahan, serta kebanggaan akan warisan budaya nenek moyang.
Para pengrajin yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga, menjalankan profesi ini sambil menanamkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda. Setiap helai anyaman seolah mengartikan tentang kesabaran, ketekunan, hingga rasa cinta terhadap tradisi. (Pun)***







Komentar