MAROS (TUGUBANDUNG.ID) – Pelatihan Lanjutan Digital Marketing dan Produksi Konten untuk UMKM yang diselenggarakan oleh Common Room Networks Foundation di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros, Sulawesi Selatan, Rabu (8/4/2026) menghadirkan Praktisi Komunikasi Visual, Ade Bayu Indra, sebagai pemateri.
Dalam sesi ini, peserta diajak memahami bahwa foto produk bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen utama dalam strategi pemasaran digital.
“Foto produk adalah kesan pertama yang dilihat calon pembeli sebelum mereka menyentuh atau mencoba produk,” tegas Ade yang menekankan pentingnya visual dalam membangun kepercayaan konsumen.
Ade menjelaskan bahwa kualitas foto produk tidak selalu ditentukan oleh mahalnya alat. Dengan memanfaatkan kamera ponsel, pelaku UMKM tetap dapat menghasilkan visual yang profesional dan menjual. Ia menekankan beberapa aspek dasar seperti memastikan lensa bersih, memilih pencahayaan yang cukup, serta merancang konsep visual yang relevan dengan produk.
“Tanpa foto produk yang menarik, kita akan kesulitan menjual barang secara online,” ujarnya. Ade menambahkan bahwa visual adalah senjata utama promosi di berbagai platform digital.
Selain teknis dasar, pencahayaan menjadi faktor krusial yang dibahas dalam pelatihan. Peserta diajak memanfaatkan cahaya alami dari jendela atau menambahkan lampu sederhana untuk mendapatkan hasil optimal. Pencahayaan yang tepat tidak hanya membuat produk terlihat jelas, tetapi juga mampu menonjolkan tekstur dan dimensi, sehingga produk tampak lebih hidup dan menarik di mata calon pembeli.
Materi kemudian berlanjut pada penguasaan komposisi visual sebagai kunci foto yang “menjual”. Ade memperkenalkan prinsip rule of thirds, pemilihan latar belakang yang tepat, hingga penggunaan properti pendukung yang relevan namun tidak berlebihan. Ia juga mendorong peserta untuk mengeksplorasi berbagai sudut pengambilan gambar seperti flat lay, eye level, hingga close up guna menampilkan detail produk secara maksimal. Menurutnya, komposisi yang baik tidak hanya memperindah gambar, tetapi juga memperkuat identitas merek dan membedakan produk dari kompetitor.
Tak berhenti pada proses pemotretan, Ade juga mengajak peserta memahami pentingnya tahap pascaproduksi melalui editing. Menggunakan aplikasi gratis seperti Snapseed, peserta diperkenalkan pada langkah-langkah dasar seperti mengatur eksposur, kontras, saturasi, hingga mempertajam detail produk. Editing, menurutnya, bukan untuk memanipulasi melainkan untuk menampilkan produk secara lebih akurat dan menarik.
“Visual yang menarik secara signifikan mendorong tingkat konversi penjualan online,” jelasnya.
Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan teknis, tetapi juga didorong untuk terus bereksperimen dan membangun konsistensi visual. Ade menutup sesinya dengan pesan penting bahwa kreativitas dan ketekunan jauh lebih menentukan dibandingkan peralatan yang digunakan.
“Alat bukanlah yang terpenting. Bapak ibu tetap bisa menghasilkan foto yang menarik dan berkualitas meskipun hanya menggunakan ponsel,” pungkasnya.***













Komentar