KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID- Pneumonia masih menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan anak, khususnya balita. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pneumonia menyumbang sekitar 14 persen dari seluruh kematian anak di bawah lima tahun akibat infeksi secara global.
Penyakit ini dapat berkembang dengan cepat dan memicu komplikasi serius, tetapi risikonya dapat ditekan melalui langkah pencegahan, antara lain imunisasi, pemenuhan nutrisi, serta pengendalian faktor lingkungan.
Kondisi tersebut mendorong MSD Indonesia menginisiasi sesi edukasi bertajuk “Bantu Cegah Pneumonia, Berikan Perlindungan Lebih Luas pada Anak Sejak Dini” bagi komunitas ibu di Kota Bandung.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat mengenai bahaya pneumonia, pengenalan risiko, serta pentingnya pencegahan sejak dini berdasarkan informasi dan rekomendasi berbasis sains.
Pneumonia kerap disebut sebagai salah satu penyakit yang berbahaya karena dapat menyerang paru-paru dan berkembang menjadi kondisi berat, terutama pada anak usia balita. Secara global, WHO menyebut pneumonia sebagai penyebab sekitar 14 persen kematian anak di bawah lima tahun.
Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk imunisasi, pemenuhan nutrisi yang cukup, serta mengatasi faktor lingkungan yang meningkatkan risiko infeksi.
Di Indonesia, pemerintah menargetkan penurunan insiden pneumonia pada balita hingga 70 persen. Tantangan pencegahan masih mencakup rendahnya pemahaman mengenai bahaya pneumonia, keterlambatan orang tua mengenali tanda dan risiko penyakit, serta beredarnya misinformasi mengenai upaya pencegahan dan imunisasi.
External Affairs Director MSD Indonesia, Dudit Triyanto, mengatakan penguatan literasi kesehatan menjadi bagian penting dalam membantu masyarakat mengambil keputusan kesehatan yang tepat bagi anak.
“Pneumonia adalah ancaman yang sebagian besar risikonya dapat dicegah melalui perlindungan sejak dini. Tantangan yang kita hadapi saat ini tidak hanya terkait akses, tetapi juga kesenjangan informasi dan maraknya misinformasi. Melalui sesi edukasi ini, kami ingin membantu menghadirkan informasi yang relevan dan berbasis sains agar orang tua, khususnya di wilayah Jawa Barat, bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan kesehatan untuk anaknya,” ujarnya.
Di Jawa Barat, pneumonia pada balita juga masih menjadi perhatian. Data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut mencatat 578.490 kasus pneumonia pada balita di berbagai kabupaten/kota di Jawa Barat sepanjang 2019 hingga 2024.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dr. R. Vini Adiani Dewi, MMRS, menekankan pentingnya keterlibatan komunitas dalam memperkuat edukasi kesehatan hingga tingkat keluarga.
“Kasus pneumonia pada balita di Jawa Barat masih perlu menjadi perhatian bersama. Upaya pencegahan sejak dini, termasuk melalui imunisasi dengan perlindungan yang lebih luas sesuai rekomendasi, perlu terus diperkuat. Puskesmas, kader, dan komunitas ibu memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada keluarga,” katanya.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Padjadjaran sekaligus Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.Inf.P.T.(K), menjelaskan bahwa pneumonia pada anak dapat berkembang cepat sehingga orang tua perlu memahami pentingnya langkah preventif.
“Pneumonia pada anak sering kali berkembang cepat tanpa gejala awal yang jelas, sehingga banyak orang tua terlambat menyadarinya. Padahal, anak usia balita memiliki sistem imun yang belum matang, sehingga lebih rentan mengalami infeksi berat. Karena itu, langkah pencegahan seperti imunisasi menjadi sangat krusial untuk membantu melindungi anak sejak dini dari risiko komplikasi serius hingga rawat inap,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pemberian beberapa imunisasi dalam waktu yang sama dapat dilakukan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Menurutnya, sistem imun anak mampu merespons beberapa antigen secara bersamaan.
“Banyak orang tua khawatir ketika anak menerima beberapa imunisasi sekaligus. Padahal, secara medis hal ini mungkin dilakukan karena sistem imun anak mampu merespons beberapa antigen dalam waktu bersamaan. Pemberian vaksin kombinasi atau simultan juga justru membantu memastikan anak mendapatkan perlindungan lebih cepat dan lengkap, terutama pada periode usia rentan,” ujarnya.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga merekomendasikan imunisasi sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit infeksi pada anak. Orang tua dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk memperoleh informasi mengenai imunisasi yang sesuai dengan usia, kondisi, dan kebutuhan anak.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, komunitas, dan masyarakat, edukasi mengenai pneumonia diharapkan dapat terus diperluas. Peningkatan pemahaman mengenai faktor risiko, langkah pencegahan, serta pentingnya imunisasi diharapkan dapat membantu memperkuat perlindungan anak Indonesia, khususnya di Jawa Barat, sejak usia dini.***











Komentar