KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah memiliki relevansi yang semakin kuat di tengah dinamika perekonomian saat ini. “Sebagai Bank Sentral, Bank Indonesia memiliki komitmen untuk terus mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru. Pengembangan ekonomi syariah tidak hanya bertujuan meningkatkan aktivitas ekonomi, tetapi juga menghadirkan sistem ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat,” ujar Kepala Perwakilan Bank
Indonesia Provinsi Jawa Barat, Junanto Herdiawan, dalam gelaran Tabligh Akbar pada rangkaian Sunda Karsa Fest: Karya Kreatif Jawa Barat 2026, Minggu pagi (28/6/2026) di Mesjid Trans Studio Bandung.
Peran strategis ekonomi syariah tercermin dari besarnya potensi yang dimiliki Indonesia. Kontribusi sektor Halal Value Chain (HVC) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 27,34% (KEKSI, 2026). Pengeluaran konsumen Muslim global untuk enam sektor utama mencapai USD2,6 triliun dan diproyeksikan melonjak menjadi USD3,56 triliun pada tahun 2029 (SGIE 2025/2026).
Di Jawa Barat, ekonomi syariah memiliki prospek yang sangat kuat seiring besarnya basis masyarakat muslim, berkembangnya UMKM halal, fesyen muslim, kuliner halal, pesantren, dan pariwisata ramah muslim. Dengan modal sosial, ekonomi, dan budaya tersebut, Jawa Barat memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu episentrum pengembangan ekonomi halal nasional. Namun demikian, ruang penguatan literasi masih terbuka lebar, mengingat tingkat literasi ekonomi dan keuangan syariah Indonesia pada 2025 berada pada level 50,18%.
Lebih lanjut, Junanto menyampaikan bahwa sebagai respon atas kondisi tersebut, diperlukan upaya edukasi literasi eksyar yang lebih masif, inklusif, serta mampu memberikan dampak berkelanjutan (multiplier effect) bagi masyarakat.
“Realisasi upaya ini tentu membutuhkan kolaborasi yang erat antar pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku industri, akademisi, hingga tokoh masyarakat,” ujarnya.
Oleh karena itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan kegiatan edukasi yang dikemas dalam Tabligh Akbar bertajuk ‘Hidup Tenang melalui Rezeki yang Berkah: Ikhtiar membangun Keluarga Bahagia sesuai Syariah’
Edukasi ini menjadi bagian dari rangkaian Sunda Karsa Fest: Karya Kreatif Jawa Barat – West Java Sharia Economic Festival (WJSEF) 2026, sebuah agenda tahunan yang bertujuan memperluas eksyar sebagai bagian dari gaya hidup halal sekaligus memperkuat peran Jawa Barat dalam mendukung kemajuan eksyar nasional.
Tidak hanya melalui Tabligh Akbar, WJSEF 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan edukasi dan experience eksyar lainnya, antara lain: Sharia Economic Forum yang mengangkat tema Beauty in Modesty, Santri-preneur, dan Moneytalk; berbagai kompetisi syariah seperti Halal Chef, Modest Fashion, Dakwah Eksyar, dan Olimpiade Ekonomi Syariah; Wakafee sebagai pos wakaf untuk mendukung program-program kesejahteraan Masyarakat; Showcase UMKM Syariah dan Halal Beauty; serta layanan perbankan dan keuangan syariah.
Tema Tabligh Akbar di atas menjadi semakin relevan karena ekonomi syariah sejatinya berangkat dari kehidupan yang paling dekat dengan masyarakat, yaitu keluarga. Di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis, setiap keluarga tentu mendambakan kehidupan yang tenteram, harmonis, dan sejahtera. Dalam konteks tersebut, penting bagi setiap keluarga untuk memastikan setiap aktivitas ekonomi berada dalam koridor syariah, mulai dari cara memperoleh penghasilan, mengelola keuangan keluarga, hingga membelanjakan harta. Nilai-nilai tersebut sejatinya merupakan fondasi dari ekonomi syariah. Ekonomi syariah tidak hanya berbicara mengenai lembaga keuangan syariah atau produk halal, tetapi juga tentang bagaimana aktivitas ekonomi dijalankan dengan menjunjung tinggi prinsip keadilan, kemaslahatan, transparansi, serta tanggung jawab.
Antusiasme warga Jawa Barat terhadap eksistensi ekonomi syariah juga tercermin dari kehadiran sekitar 3.000 jamaah pada Tabligh Akbar tersebut, yang berasal dari kelompok pengajian, majelis taklim, dan masyarakat umum di wilayah Bandung Raya. Kehadiran tersebut menunjukkan bahwa ekonomi syariah tidak lagi dipandang sebagai konsep yang jauh dari masyarakat, melainkan sebagai nilai hidup yang dapat diterapkan mulai dari unit terkecil, yaitu keluarga.
Dalam kajiannya, Ustadz Hilman Fauzi mengajak jamaah untuk membangun keluarga yang bahagia sesuai syariah melalui Ikhtiar menjemput riziki dengan cara yang halal dan menjauhi yang haram serta disyukuri. Rezeki perlu dimaknai tidak semata dari sisi jumlah, tetapi juga dari keberkahan. Ustadz Hilman juga menekankan pentingnya membangun kesadaran keluarga untuk menjauhi riba, pinjaman online, paylater, dan transaksi syubhat, serta memperkuat kerja sama finansial keluarga berdasarkan prinsip kebutuhan, kebermanfaatan, dan maqashid syariah.
Bank Indonesia akan terus konsisten memperluas literasi ekonomi dan keuangan syariah, memperkuat ekosistem halal yang kokoh dan berdaya saing, mendorong UMKM syariah naik kelas, serta menjadikan ekonomi syariah sebagai bagian dari ikhtiar bersama dalam membangun Jawa Barat Istimewa. Penguatan tersebut sekaligus menjadi kontribusi nyata Jawa Barat dalam mendukung tercapainya visi Indonesia sebagai pusat industri halal dunia. (Pun)***







Komentar